Penerbit Buku Anak

[INI DIA!] Penerbit Buku Anak Berkualitas di Indonesia!

Penerbit Buku Anak – Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Salah satu pilar ekonomi kreatif adalah penerbit buku anak yang terdapat di dalam subsektor industri kreatif penerbitan.

Seperti apakah industri penerbitan itu dan bagaimanakah perannya dalam ekonomi kreatif di Indonesia serta bagaimana penerbit buku anak juga ikut mengambil perannya?

Simak ulasannya dalam tulisan yang panjang berikut ini.

I. Apa Itu Ekonomi Kreatif?

Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di Indonesia, di mana kita memiliki:

  • sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar
  • sumber daya alam terbarukan yang berlimpah; dan
  • sumber warisan budaya yang unik dan beragam

Ketiganya menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek nonekonomi berbangsa dan bernegara.

Melalui ekonomi kreatif, kita dapat:

  • memajukan citra dan identitas bangsa
  • mengembangkan sumber daya yang terbarukan
  • mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri
  • memberikan dampak sosial yang positif
  • peningkatan kualitas hidup
  • emerataan kesejahteraan
  • peningkatan toleransi sosial

Penerbitan, sebagai salah satu dari 15 subsektor di dalam industri kreatif, merupakan kegiatan mengelola informasi dan daya imajinasi untuk membuat konten kreatif yang memiliki keunikan tertentu, dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar dan/atau audio ataupun kombinasinya, diproduksi untuk dikonsumsi publik, melalui media cetak, media digital, ataupun media daring untuk mendapatkan nilai ekonomi, sosial ataupun seni dan budaya yang lebih tinggi.

Saat ini masih ada masalah-masalah yang menghambat pertumbuhan industri penerbitan di Indonesia, termasuk di dalamnya:

  • jumlah dan kualitas orang kreatif yang masih belum optimal
  • ketersediaan sumber daya alam yang belum teridentifikasi dengan baik
  • keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan sumber daya budaya
  • minimnya ketersediaan pembiayaan bagi orang-orang kreatif
  • pemanfaatan pasar yang belum optimal
  • ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang kurang memadai
  • serta kelembagaan dan iklim usaha yang belum sempurna.

 

II. Memahami Dunia Penerbitan vs Percetakan

Buku Anak

Di Indonesia seringkali definisi penerbitan disamakan dengan definisi percetakan. Hal ini tidak hanya dipahami oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh pelaku bisnis. Bahkan, pemerintah sendiri masih sulit membedakan proses di antara kedua kegiatan tersebut. Padahal bila dilihat secara etimologis dan konseptual, kedua kata tersebut memiliki makna yang sangat berbeda.

Selain itu, definisi penerbitan dan percetakan juga telah mengalami pergeseran makna, ruang lingkup, bahkan karakteristik proses dan model bisnis searah dengan perkembangan informasi dan teknologi yang semakin maju.

Di samping itu, telah juga terjadi pergerasan pusat kreativitas dari kegiatan penerbitan dan percetakan ke arah yang lebih menitik-beratkan pada produksi konten. Peran percetakan yang integral terhadap industri ini, kini semakin dapat digantikan oleh Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Berdasarkan keterangan dari European Comission and Skillset Assesment UK pada tahun 2011, penerbitan dan percetakan didefinisikan sebagai berikut:

A. Definisi Penerbitan

Penerbitan didefinisikan sebagai proses produksi dan penyebaran informasi, yaitu membuat informasi tersedia untuk publik. Penerbitan lebih berfokus menciptakan konten bagi konsumen. Informasi tersebut dapat berupa karya-karya seperti buku, majalah, koran, dan rekaman suara dalam bentuk cetak maupun elektronik.

Penerbitan berasal dari kata “publish” yang mulai dicatat pada awal 1570 dengan pemahaman “the issuing of a written or printed work” atau informasi yang ditulis atau pekerjaan yang dicetak.

Pemahaman penerbitan mulai dikembangkan pada 1650 dari bahasa Prancis kuno yang menyebutkan bahwa kata “publish” berasal dari kata ‘publier’ yang mengandung arti “the act of making publicly known”. Sedangkan definisi “printing” berasal dari kata “preinte” yang diambil dari Prancis kuno dan bahasa Latin “premere” yang mengandung arti “top press” atau cetak.

B. Definisi Percetakan

Percetakan didefinisikan sebagai proses untuk memproduksi teks dan gambar, termasuk kegiatan pendukung yang terkait, seperti:

  • penjilidan buku
  • jasa pembuatan piringan
  • dan pencitraan data

Dengan kata lain, percetakan lebih berfokus memproduksi konten dalam bentuk media.

World Intellectual Property Organization (WIPO) mengembalikan pemahaman penerbitan pada asal katanya, yaitu ‘publik’. Dengan kata lain, penerbitan adalah industri yang mendistribusikan konten kepada publik.

Berdasarkan keterangan dari Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI) aktivitas percetakan masuk ke dalam alur proses penerbitan, yang dilakukan setelah proses penyuntingan dan proofreading, sebelum didistribusikan ke toko buku baik secara konvesional maupun melalui media dalam jaringan (daring).

Oleh karena itu, subsektor penerbitan dan percetakan dalam ekonomi kreatif di Indonesia didefinisikan sebagai penerbitan sesuai dengan perubahan makna dan ruang lingkup dari penerbitan itu sendiri.

Berdasaran pemahaman tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa definisi penerbitan sebagai subsektor ekonomi kreatif adalah:

Suatu usaha atau kegiatan mengelola informasi dan daya imajinasi untuk membuat konten kreatif yang memiliki keunikan tertentu, dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar dan/atau audio ataupun kombinasinya, diproduksi untuk dikonsumsi publik, ataupun media daring untuk mendapatkan nilai ekonomi, sosial, ataupun seni dan budaya yang lebih tinggi.

Dalam definisi penerbitan tersebut, terdapat beberapa kata kunci yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menjelaskan makna penerbitan, yaitu:

Konten Kreatif. Konten kreatif adalah suatu informasi yang dikelola memalui proses kreativitas.

Keunikan. Keunikan adalah karya kreatif yang memiliki kekhususan atau keistimewaan, berbeda dari yang lain.

Diproduksi untuk Konsumsi Publik. Maksudnya adalah karya kreatf yang langsung memenuhi keperluan hidup masyarakat luas (produk massal).

Media. Maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi, meliputi:

  • Media cetak, yaitu media yang terdiri atas lembaran kertas dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dengan tata warna dan halaman.
  • Media elektronik, yaitu media yang menggunakan elektronik untuk mengakses kontennya.
  • Media dalam jaringan (daring), yaitu media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet).

Nilai, yaitu manfaat yang diperoleh, meliputi:

  • Nilai ekonomi, yaitu nilai yang diperhitungkan dengan nilai uang atau berhubungan dnegna keuntungan secara finansial.
  • Nilai sosial, yaitu penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap sesuatu yang dianggap baik, luhur, pantas, dan mempunyai daya guna fungsional bagi masyarakat.
  • Nilai seni dan budaya, adalah nilai yang berkaitan dalam pembuatan konten kreatif dengan pengejawantahan estetika dan rasa seni yang di dalamnya mengandung aspek kebudayaan.

Berdasarkan definisi tersebut, maka aktivitas dalam penerbitan lebih bersifat kreasi dan
menitikberatkan pada muatan konten, sedangkan aktivitas pada percetakan lebih bersifat pada produksi dan replikasi hasil karya berisikan muatan konten tersebut. Dengan demikian, penerbitan dan percetakan memiliki aktivitas utama yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki tujuan untuk memperoleh keluaran berupa produk informasi yang baik dan bermutu kepada masyarakat.

 

III. Ruang Lingkup Pengembangan Penerbitan

Penerbitan memiliki tiga fungsi utama yaitu publikasi, reproduksi, dan penyebarluasan. Fungsi publikasi menjadi kunci utama dalam membangun pencitraan sebuah karya agar dapat diapresiasi oleh masyarakat dengan baik dan akhirnya meningkatkan nilai ekonomis karya yang dihasilkan.

Proses publikasi erat kaitannya dengan kontrol kualitas di mana sebelum dipublikasikan sebuah karya harus melewati proses seperti:

  • penilaian ahli atau review
  • penyuntingan konten
  • penyuntingan bahasa
  • penggarapan desain, dan
  • konversi format yang sesuai

Tujuannya adalah agar konten karya yang telah dipublikasikan layak untuk dikonsumsi publik dan bernilai ekonomis.

Selain itu, penerbitan memiliki fungsi penggandaan atau reproduksi konten, yang dapat dilakukan melalui pencetakan ataupun media lainnya. Wadah penyimpanan konten yang dihasilkan penerbitan akan dikemas dalam media. Media yang dimaksud adalah media cetak, media elektronik, dan media daring, ataupun kombinasinya seperti pemanfaatan multimedia serta fitur-fitur media sosial, maupun potensi media lainnya yang mengikuti perkembangan teknologi.

Dan yang terakhir, fungsi yang tak kalah penting dari penerbitan adalah penyebarluasan, yaitu bagaimana konten tersebut disalurkan ke masyarakat.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka penerbitan memiliki makna yang luas dan tidak terbatas pada penerbitan dalam bentuk buku, majalah, surat kabar, atau jurnal dan buletin, tetapi mencakup pula konten-konten lainnya, seperti: musik, piranti lunak, atau film.

Dengan kata lain, penerbitan merupakan media perantara yang mempertemukan antara produsen dengan konsumen. Setiap produsen bertujuan untuk memberikan informasi produk ataupun karyanya kepada konsumen. Sedangkan konsumen membutuhkan informasi mengenai sebuah produk ataupun karya agar dapat dikonsumsi.

Oleh karena itu, posisi penerbitan di dalam peta industri kreatif dapat dijadikan forward linkage (sebagai penerbit) maupun backward linkage (sebagai penyedia referensi) terhadap tujuh belas subsektor ekonomi kreatif maupun industri lainnya dalam rangka menyebarkan karya kreatifnya.

Ruang lingkup penerbitan sangatlah luas, tidak terbatas pada penerbitan buku, tetapi juga terkait dengan penerbitan media berkala, computer software, audio-visual recording, atau penerbitan lainnya.

Untuk lebih memahaminya, Anda bisa menyimak infografik berikut tentang ruang lingkup penerbitan dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ruang Lingkup Penerbitan

Untuk dapat memahami ruang lingkup penerbitan tersebut, berikut ini penjelasan lebih jauh mengenai kategori penerbitan yang dimaksudkan.

 

A. Penerbitan Buku

Daftar Penerbit Buku Anak Indonesia

Penerbitan buku adalah penerbitan yang mempublikasikan informasi atau gambar ke dalam bentuk buku.

Di sini, buku tentu saja dipahami sebagai kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar.

Pendaftaran atau pendokumentasian karya ke dalam bentuk buku menggunakan International Standar Book Number (ISBN).

Berdasarkan jenis kontennya, buku dapat memuat konten fiksi maupun nonfiksi dengan penjelasan sebagai berikut:

Konten fiksi: adalah konten kreatif berupa tulisan, gambar, ataupun kombinasinya yang berisi kisah rekaan, baikk yang berlandaskan fakta-fakta nyata yang dibubuhi karangan pegnarang maupun yang murni merupakan rekayasa semata.

Konten nonfiksi: adlaah konten kreatif yang dalam penulisannya mengutamakan data dan fakta yang tidak berisi imajinasi atau rekaan penulis, dengan data yang dapat dipertanggung jawabkan dan memiliki kejelasan makna.

Selain itu, penerbitan buku berdasarkan aktegori jenis penerbitannya dapat dibedakan menjadi dua:

1. Penerbitan Buku Umum

Penerbitan buku umum adalah penerbitan yang menerbitkan buku-buku bertema umum. Kategorisasinya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Buku agama dan filsafat
  • buku bahasa
  • buku anak
  • buku remaja
  • buku sekolah
  • buku teks
  • buku hobi dan interest
  • buku hukum
  • buku kedoteran
  • buku kewanitaan
  • buku komputer
  • buku manajemen dan bisnis
  • buku pertanian
  • buku psikologi dan pendidikan
  • buku referensi dan kamus
  • buku sastra dan novel
  • buku sosial politik
  • buku pariwisata
  • peta

2. Penerbitan Buku Direktori

Penerbitan buku direktori yaitu penerbit yang memproduksi milis, buku telepon, dan berbagai jenis direktori lainnya. Dalam perkembangannya, buku direktori ini makin banyak diterbitkan secara digital.

B. Penerbitan Media Berkala (Periodik)

Penerbitan media berkala adalah penerbitan kumpulan tulisan yang muncul dalam edisi baru pada jadwal teratur, termasuk surat kabar, majalah, tabloid, buletin, jurnal, dan sebagainya.

Ciri khas dari media berkala yaitu memiliki nomor yang menandakan volumen dan isu penerbitan.

Volume biasanya mengacu pada jumlah tahun publikasi telah beredar, dan isu mengacu pada beberapa kali media yang bersangkutan telah terbit selama tahun itu.

Pendaftaran atau pendokumentasi media berkala adalah menggunakan International Standard Serial Number (ISSN)

Jenis-jenis media berkala adalah sebagai berikut:

1. Surat Kabar

Surat kabar didefinisikan sebagai publikasi yang menyajikan konten nonfiksi berupa informasi terbau terkait kegiatan pemberitaaan (jurnalistik) atau informasi lainnya, menggunakan jenis kertas murah yang disebut kertas koran. Hasil karyanya diterbitkan dan didistribusikan kepada konsuemn atau pelanggan secara harian.

2. Majalah dan Tabloid

Yaitu publikasi yang menyajikan informasi populer atau informasi dengan tema tertentu, disajikan dengan jadwal teratur secara mingguan atau bulanan. Konten berfokus pada tema dan tujuan konsumen, baik berupa konten fiksi, nonfiksi maupun kombinasinya.

3. Buletin

Yaitu publikasi oleh organisasi yang mengangkat perkembangan suatu tpik atau aspek tertentu dan diterbitkan secara berkala dalam rentang waktu yang rlatif singkat, harian hingga bulanan.

Buletin ditujukan kepada khalayak yang lebih sempit, yang berkaitan dengab bidang tertentu saja, yang umumnya dituliskan secara singkat dan padat dengan menggunakan bahasa formal dan istilah tekniks yang berkaitan dengan bidang tersebut.

4. Jurnal Akademik

Yaitu publikasi konten nonfiksi yang identik dengan onten dengan spesialisasi dalam mata pelajaran akademik. Penerbit media ini umumnya merupakan universitas, lembaga llmiah, atau usaha komersial yang berfokus kepada suatu disiplin ilmu tertentu.

C. Penerbitan Perangkat Lunak (Sofware) Komputer

Secara teknis, penerbitan perangkat lunak komputer menerbitkan hasil-hasil karya kreatif dalam bentuk data yang diformat dan disimpan secara digital, termasuk program komputer, dokumentasi, dan berbagai informasi yang bisa dibaca dan ditulis oleh komputer.

Walaupun berkaitan dengan penyediaan informasi kepada khalayak luas, pada praktiknya, penerbitan ini seringkali lebih terkait dengan subsektor teknologi informasi dan permainan interaktif.

Yang termasuk dalam produk perangkat lunak komputer adalah:

  • Perangkat lunak sistem yaitu program dasar yang berfungsi untuk mengontrol
    perangkat keras sehingga berinteraksi dengan komputer untuk menjalankan aplikasi perangkat lunak, contohnya adalah sistem operasi komputer seperti Ubuntu, Windows, Android.
  • Aplikasi perangkat lunak yaitu perangkat lunak yang melakukan tugas tertentu atau fungsi sebagai pengolah kata, misalnya Microsoft Word; Spreadsheet, misalnya Microsoft Excel; pengolah grafis, misalnya Adobe Photoshop, Corel Draw, ACDSee; software Internet browser, misalnya Internet Explorer, Mozilla Firefox.
  • Produk multimedia yaitu produk yang menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi, dan video dengan alat bantu dan koneksi sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya, dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan dan game.

Walau demikian, tidak jarang juga buku-buku panduan pemrograman dan sejenisnya yang diterbitkan bersamaan dengan CD yang berisi perangkat lunak yang bersangkutan.

Dalam pengembangan subsektor penerbitan, bagaimanapun kita akan lebih berfokus pada konten yang disebarluaskan terutama dalam bentuk buku, tanpa mengabaikan potensi dan keterkaitan dengan subsektor-subsektor lain ini.

D. Penerbitan Audio-Visual Recording

Penerbitan karya-karya kreatif dalam bentuk perekaman audio ataupun audiovisual, termasuk di dalamnya film, musik, dan video ataupun kombinasinya.

E. Penerbitan Lainnya

Penerbitan hasil karya kreatif berupa foto-foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi karya seni, dan material periklanan serta materi cetak lainnya dengan tujuan komersial, ataupun penerbitan yang tidak termasuk ke dalam poin 1-4 tetapi konten ataupun pengembangan konten yang terdapat pada media yang diterbitkannya mempublikasikan dan mendistribusikan informasi untuk dikonsumsi publik.

Adapun jenis-jenis media yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Media Cetak. Media cetak adalah media massa yang berbentuk printing yang dapat dinikmati atau diakses langsung oleh pengguna akhir. Media ini terdiri atas lembaran dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata warna dan halaman.
  2. Media Elektronik. Media elektronik adalah media yang untuk mengakses kontennya diperlukan perangkat elektronik. Sumber media elektronik yang umum antara lain adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia, dan konten daring. Media elektronik dapat berbentuk analog maupun digital, walaupun saat ini yang  berkembang pada umumnya berbentuk digital. Pada media elektronik, data/konten disimpan ke dalam media penyimpan data seperti CD, DVD, dll.
  3. Media Daring. Daring adalah singkatan dari “dalam jaringan” (online), yaitu keadaan ketika seseorang terhubung dalam sebuah jaringan atau sistem yang lebih besar dalam situasi interaksi langsung antara manusia, komputer, dan internet. Sedangkan yang dimaksud dengan media daring adalah media yang digunakan untuk mengakses atau menyajikan informasi/konten dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi Internet. Yang termasuk dalam media daring antara lain adalah situs web, portal web, weblog (blog). Berikut penjelasannya:
  • Situs web adalah halaman informasi yang disediakan kantor berita/perusahaan pers melalui jalur Internet, sehingga informasi bisa diakses dari seluruh dunia selama terkoneksi. Pada umumnya, situs web secara konvensional dikelola oleh suatu pihak.
  • Portal web adalah situs web yang lebih menitikberatkan pada basis data dan interaksi pengguna, tidak jarang dengan menawarkan layanan lainnya seperti fasilitas surel, forum, basis data pengguna, interaksi media sosial, dan sejenisnya.
  • Web log atau blog adalah media publikasi yang memuat tulisan (posting) berupa artikel atau sejenisnya secara berkala, yang diurutkan sesuai waktu dan dikelompokkan sesuai kategori jenis tulisan. Blog dapat dikelola secara perseorangan maupun organisasi atau komunitas, dan merupakan alternatif media bagi penulis pemula, karena media digital terbuka bagi siapa pun yang ingin membuat blog dan menerbitkan tulisan mereka sendiri secara berkala.

Penerbitan permainan interaktif, teknologi informasi, musik, dan film merupakan bagian subsektor yang berdiri sendiri dan sudah memiliki peran penerbitan secara spesifik dalam mengelola penyebarluasan dan pengelolaan hak cipta kontennya.

Namun, dalam praktik pengembangan konten di industri kreatif, seringkali konten mengalami pengalihan media, misalnya dari novel menjadi film, film menjadi komik, komik menjadi mainan, dan lain sebagainya. Keterkaitan ini mengindikasikan kecenderungan kolaborasi yang kuat antarsubsektor ekonomi kreatif.

Dalam kolaborasi ini, seringkali industri penerbitan menjadi kunci awal bagi pengembangan konten yang akan dialihmediakan, terutama dalam dunia komik dan buku-buku nonfiksi. Salah satu contohnya adalah novel Laskar Pelangi dan Perahu Kertas yang telah difilmkan, serta karakter komik fiksi terkenal Si Juki yang dikembangkan  untuk menjadi sebuah ikon di Indonesia.

 

IV. Ringkasan Ruang Lingkup Penerbitan

Dengan berbagai pertimbangan dan pemahaman tersebut, maka ruang lingkup industri penerbitan dalam konteks pengembangan subsektor industri kreatif di Indonesia meliputi dua kegiatan utama berikut ini:

1. Penerbitan Buku Umum

Dilaksanakan dengan fokus pengembangan pada keberlangsungan penerbitan buku cetak, khususnya buku-buku yang memiliki genre buku anak, sastra dan novel, komik ataupun buku-buku yang mencerminkan nilai budaya bangsa serta buku yang menjadi penunjang keberadaan ke-15 subsektor ekonomi kreatif lainnya.

2. Penerbitan Media Berkala

Penerbitan media berkala adalah penerbitan karya kreatif dalam jangka waktu tertentu. Fokus pengembangan industri penerbitan ini meliputi surat  kabar, majalah, tabloid, buletin dan jurnal akademik yang terkait dengan penyampaian informasi ataupun konten publikasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan pola pikir masyarakat secara umum.

 

V. Penerbit Buku Anak

Penerbit Buku Anak di Jogja

Sebagaimana sudah kita bahas bersama di atas, bahwa penerbit buku anak berada pada bagian dari industri penerbitan, bukan percetakan.

Semoga dengan ini, tak ada lagi yang pusing untuk memahami tentang peta industri penerbit buku anak sehingga lebih bisa mengapresiasi dan juga mendukung industri penerbit buku anak agar lebih berkembang di Indonesia.

Mengapa?

Jelas, karena anak pada dasarnya menjadi aset terpenting bagi kehidupan manusia. Anak yang didik dengan baik tentunya akan menjadi kebanggaan bagi orang tunya. Begitu pula sebaliknya, seorang anak yang diberikan pendidikan tidak baik atau kurang baik setelah dewasa akan menyusahkan kedua orang tuanya dan juga menambah beban bangsa karena ia tumbuh menjadi sampah masyarakat.

Tentu hal tersebut tidak kita inginkan, bukan?

Adapun salah satu cara untuk mendidik anak adalah memberikaan bacaan yang berkualitas. Tentu saja berupa buku yang berisi konten edukatif yang kental yang dibalut dengan narasi unik dan apik. Buku anak yang berkualitas tersebut ditulis oleh seorang penulis yang pada dasarnya berangkat dari keperhatiannya terhadap dunia anak-anak.

1. Penerbit Buku Anak Jogja

Memperkenalkan anak pada buku sejak usia dini akan membantu dirinya menjadi anak yang cerdas, berwawasan, serta berkarakter di kemudian hari.

Bahkan, membaca buku bersama anak pun adalah salah satu cara ‘bonding’ berkualitas yang wajib dilakoni oleh setiap orang tua.

Namun, tidak sembarang buku cocok untuk anak. Anda perlu memilih buku sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan usianya. Tak hanya konten, namun juga format buku yang menyenangkan.

Dengan kata lain, tak hanya naskahnya yang unik dan asyik, tetapi juga ilustrasi, pengemasan, serta produk yang dicetak dengan kualitas yang oke punya.

Sejauh ini, pasar buku balita dan anak yang berkualitas, masih didominasi oleh buku-buku impor. Walaupun demikian, ada penerbit buku anak di Jogja yang berhasil memiliki kualitas produk yang oke punya dengan sangat sesuai dengan perkembangan zaman now serta memang dikonsep dengan perpaduan yang apik antara penulis dan penerbit.

Penerbit buku anak di Jogja tersebut adalah Charissa Publisher. Silakan klik pada tautan tersebut untuk melihat produk-produk buku anak yang telah dihasilkan oleh Charissa Publisher.

2. Penerbit Buku Anak Indie di Indonesia

Perkembangan buku anak di Indonesia sekarang ini bisa dibilang menggembirakan. Terdapat banyak sekali penerbit yang bisa dikatakan dari penerbit indie dengan menggunakan kanal penjualan lewat reseller dan juga online, dengan harga yang tergolong tidak murah, namun berhasil melakukan banyak sekali pembuktian bahwa lewat metode sederhana tersebut bisa melahirkan penjualan produk buku anak yang luar biasa.

Tentu saja, hal tersebut dibarengi dengan kualitas dari produk buku anak yang memang tidak kaleng-kaleng alias digarap dengan serius, baik dari sisi naskah, ilustrasi, hingga hasil akhir cetakan produk tersebut.

Beberapa produk penerbit buku anak indie yang memiliki hasil produk buku anak yang bagus di antaranya adalah sebagai berikut:

3. Penerbit yang Menerima Naskah Buku Anak

Bagi Anda yang kebingungan penerbit apa yang menerima naskah buku anak dari luar, alias dari penulis dari luar penerbit tersebut (bukan in-house), maka salah satu penerbit yang menerima naskah buku cerita anak yang kami rekomendasikan tentu saja adalah: Penerbit Charissa.

Pada dasarnya memang Penerbit Charissa menerbitkan berbagai macam buku, seperti buku panduan, buku bisnis, dan juga buku anak. Beberapa karya buku anak dari Charissa memang selalu dikonsep dengan matang lewat perpaduan apik antara kerja sama yang optimal dan prima antara pihak penulis dan pihak penerbit.

Untuk Anda yang suka menulis buku cerita anak, tak ada salahnya untuk mengirimkan naskah buku anak Anda kepada Penerbit Charissa. Informasi mengenai Penerbit Charissa bisa Anda klik pada tautan berikut ini.

4. Model Bisnis di Industri Penerbit Buku Anak

Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan para aktor bisnis dalam industri penerbitan. Aktor-aktor bisnis konvensional cenderung menitikberatkan pada penghasilan dan penjualan buku baik cetak maupun daring. Sementara aktor-aktor bisnis yang lebih muda, pada umumnya komikus, lebih berfokus pada pengembangan konten HKI.

Model bisnis penerbitan cetak mengacu pada bisnis penerbitan yang memiliki tujuan untuk menciptakan dan mencetak konten berwujud buku maupun media berkala yang diterbitkan secara cetak maupun daring. Model bisnis ini meliputi semua rantai nilai, mulai dari proses ide, kreasi, produksi, distribusi dan penjualan. Monetisasi bisnis penerbitan cetak di Indonesia pada umumnya dibagi sebagai berikut:

  • Penulis: 10% dari harga buku
  • Produksi: 20% dari harga buku
  • Penerbit: 15-20% dari harga buku
  • Distributor: 50-55% dari harga buku

Dari sini, dapat dilihat bahwa distributor mendapatkan porsi paling besar dari keuntungan penjualan buku. Hal ini menyebabkan minimnya alokasi dana untuk agen naskah dan berbagai keperluan penerbit seperti pemasaran dan sejenisnya. Pembagian ini terjadi karena kondisi monopolistik yang membuat distributor memiliki daya tawar yang amat tinggi.

Demikian pembahasan mengenai kondisi penerbit buku anak di Indonesia. Sudah kita bahas secara lengkap kaitannya dengan ekonomi kreatif serta hal-hal ayng diperlukan untuk mengetahui tentang kondisi penerbit buku anak lebih lengkap dan terkini.

Materi akan terus kami update, jadi silakan untuk terus memantau konten tentang penerbit buku anak yang ada dalam postingan ini.

Terima kasih!


Referensi:

  • Trimansyah, Bambang. 2012. Apa & Bagaimana Menerbitkan Buku: Sebuah Pengalaman Bersama IKAPI. Jakarta: IKAPI.
  • Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019. Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif.
  • bekraf.go.id
  • ikapi.org