Mengenal dan Memahami Anak Autis: Penting untuk Diketahui Sekarang

anak autis

Anak autis memiliki gangguan dalam berinteraksi sosial, berkomunikasi maupun memiliki pola repetitif. Sebagai dampak dari perilakunya yang kerapkali dianggap tidak normal, anak dengan autisme kerap kali menerima perlakukan yang tidak menyenangkan dari lingkungannya.

Anak dengan autisme sering membuat orang lain memiliki cara pandang yang aneh dan berbeda. Hal ini kemudian membuat si kecil kerap kali diremehkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lantas apa itu autisme?

Gangguan spektrum autisme kerap kali menjadikan seseorang sulit untuk berpikir, berbahasa, berperilaku, maupun bersosialisasi.

Gejala autisme biasanya muncul saat dua tahun pertama kehidupan seseorang.

Adapun gangguan autisme umumnya tergantung kepada tingkat keparahan yang diderita.

Namun seorang anak yang autis biasanya mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dipikirkan maupun yang dirasakan orang lain.

Karena itulah anak autis akan sulit untuk mengekspresikan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah maupun sentuhan.

Terdapat sejumlah tanda dari autisme yang bisa saja dialami seseorang.

Ciri ataupun tanda autisme tersebut di antaranya:

  • Sulit berkomunikasi dan berinteraksi
  • Tidak mudah tertarik dan memiliki perilaku yang berulang-ulang
  • Mereka sulit saat berada di sekolah, tempat kerja maupun area kehidupan lain

Menurut CDC, jumlah penderita autisme adalah 1 dari 59 anak sehingga di seluruh dunia ada sebanyak 1,7 persen.

 

Gejala Anak Autis

Secara lebih lengkap, berikut ini gejala pada autisme sebagaimana dikutip dari Medscape:

  • Regresi perkembangan
  • Tidak adanya penunjuk protodeklaratif, yaitu kegagalan untuk melihat ke mana pemeriksa melihat dan menunjuk
  • Reaksi abnormal terhadap rangsangan lingkungan
  • Interaksi sosial yang tidak normal
  • Tidak adanya senyuman saat disambut oleh orang tua dan orang lain yang akrab
  • Tidak adanya respons khas terhadap nyeri dan cedera fisik
  • Penundaan dan penyimpangan bahasa
  • Tidak adanya permainan simbolik
  • Perilaku berulang dan stereotip

 

Tes Deteksi Autisme

Ada sejumlah tes yang biasanya dilakukan untuk mendeteksi anak autis. Untuk orang tua yang anaknya mengalami autisme maka berikut ini sejumlah Langkah yang bisa diambil untuk menegakkan diagnose:

1. Konsultasi Dokter

Langkah pertama saat orang tua menyadari anaknya ada kemungkinan condong mengalami autis adalah berkonsultasi kepada dokter anak.

Akan tetapi pastikan untuk berkonsultasi kepada dokter anak yang berpengalaman mengenai kondisi demikian.

Orang tua juga bisa mendatangi psikologi anak untuk berkonsultasi pada mereka.

2. Pemeriksaan

Usai berkonsultasi maka selanjutnya orang tua biasanya diarahkan untuk melakukan pemeriksaan atau screening.

Saat anak belum bersekolah biasanya dokter akan melakukan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers).

M-CHAT merupakan daftar centang kuisioner psikologis yang dipakai untuk mengevaluasi risiko mengenai gangguan spektrum autisme pada anak yang usianya 16-30 bulan.

Nantinya dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan, berbicara maupun bermain dengan si kecil guna melihat bagaimana respon si kecil terhadap hal itu.

Pemeriksaan ini akan dilakukan saat si kecil berusia 9,18,24 maupun 30 bulan.

3. Penilaian

Selanjutnya saat telah dilakukan pemeriksaan maka para ahli biasanya akan menanyakan sejumlah pertanyaan terkait masalah kesehatan maupun perilaku anak.

Mereka juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan meliputi pendengaran, penglihatan tes neurologis, genetic dan tes lain bila perlu

Setelah itu baru kemudian spesialis melakukan diagnose apakah anak benar autisme atau tidak.

 

mengenal anak autis

 

Penanganan Anak Autis

Berikut ini sejumlah penanganan yang bisa dilakukan saat buah hatinya mengalami autisme:

1. Terapi perilaku

Terapi perilaku ini adalah hal dasar yang harus dilakukan anak-anak saat didiagnosis autisme.

Terapi ini meliputi terapi kognitif di mana mereka belajar berkomunikasi dan bersikap lebih baik.

Adapun tujuan terapi perilaku ini adalah mengoptimalkan kemampuan si kecil dalam berkomunikasi supaya lebih berkembang.

2. Terapi keluarga

Adapun ketika menangani anak dengan gangguan autis bukanlah perkara mudah.

Hal ini bisa mengakibatkan stress apalagi mengingat kondisi autis membutuhkan penanganan jangka panjang.

Sebagai orangtua penting untuk belajar mengenai cara berkomunikasi dengan penderita autisme supaya mereka bisa sekaligus melakukan terapi untuk anak dengan autisme tersebut.

 

Baca juga: Penerbit Buku Anak Terbaik di Jogja dan Sekitarnya

 

3. Jaga Pola Makan

Seorang anak dengan autisme perlu diatur mengenai pola makannya. Hal ini karena sejumlah makanan bisa mempengaruhi bagaimana perkembangan autisme pada anak.

Akibatnya sejumlah dokter kerap kali memberikan saran agar si kecil diet makanan tertentu.

Adapun yang biasanya dihindari adalah makanan dengan kandungan protein gluten maupun kasein atau disebut juga diet GFCF (Gluten Free Casein Free).

Adapun gluten sering ditemukan pada produk gandum dan susu. Jenis makanan ini seharusnya dihindari karena tidak bisa dicerna dengan baik untuk saluran pencernaan anak autis.

Saran orang tua

Orang tua harus selalu ingat bahwa memiliki anak yang autis bukan berarti dunia berakhir. Meskipun ini membuat lelah, stress dan sedih orang tua harus ingat bahwa buah hati adalah darah daging Anda.

Selain itu penanganan yang tepat pada anak autis juga akan berdampak baik untuk perkembangannya.

Sehingga orang tua harus selalu menjaga semangatnya dan mensyukuri setiap kondisi yang diberikan Tuhan.

Yang paling penting adalah jangan menyerah dengan kondisi yang diderita anak. Upayakan yang maksimal agar anak menjadi lebih baik meskipun mungkin tak bisa senormal anak-anak lain. Dan juga perlu diingat biasanya anak autis memiliki kemampuan yang unggul dalam bidang tertentu.

Hal ini bisa dicari orang tua untuk ditonjolkan sebagai kelebihannya. Sehingga disbanding sibuk merutuki nasib, orang tua bisa jauh lebih bersyukur.

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan