7 Cara Super AMPUH Cara Menangani Anak Autis

anak autis aktif

Cara Menangani Anak Autis – Menangani anak yang autis memang tidaklah mudah. Orang tua kadangkala harus menyiapkan stok kesabaran melebihi orang lain yang memiliki anak normal.

Namun sebagai orangtua, tidak putus asa dan mensyukuri segala yang ada adalah sebuah bahan bakar untuk menjaga semangat agar tetap bahagia. Selalu ingat bagaimanapun kondisi si kecil ia adalah anugerah Tuhan untuk Anda.

Selain itu, memiliki anak autis bukanlah akhir dunia. Banyak bukti menunjukkan kerap kali anak-anak autis bisa justru sukses dalam kehidupan. Tak jarang pula mereka biasanya terbukti memiliki keahlian-keahlian menakjubkan pada bidang-bidang tertentu.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika anak autis?

Berikut ini sejumlah cara untuk mengatasi anak autis yang bisa dicoba para orang tua untuk menghadapi anak mereka yang memiliki kondisi autis:

 

1. Jangan Samakan dengan Anak Normal

Bagaimanapun anak autis memang memerlukan penanganan khusus dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

Karena itulah, orang tua harus ingat bahwa menangani anak autis berbeda dengan menangani anak normal pada umumnya.

Anak autis mengalami salah satu gangguan spektrum autisme yang membuat seseorang mengalami kesulitan berpikir, berbahasa, berperilaku serta bersosialisasi.

Kondisi inilah yang menyebabkan mereka berbeda.

 

2. Analisis Terapi Kognitif

Saat anak dinyatakan autis maka orang tua sebaiknya memutuskan untuk melakukan terapi termasuk terapi kognitif. Terapi kognitif atau terapi perilaku terapan ini bertujuan mengembangkan kemampuannya dalam bersosialisasi, komunikasi, membaca maupun kemampuan dalam bidang akademik.

Terapi ini juga bisa meningkatkan kemampuannya belajar adaptif, meningkatkan ketangkasan motorik halus, kebersihan perawatan diri, tepat waktu dan kemampuan kerja.

Anak-anak autis yang diberikan terapi ini biasanya mereka bisa memiliki kemampuan belajar adaptif di atas rata-rata dengan memanfaatkan kemampuan IQ nya yang umumnya tinggi.

Cobalah berkonsultasi dengan psikolog terkait dengan terapi ini untuk pengaplikasiannya.

 

cara menangani anak autis

 

3. Terapi Okupasi

Manfaat dari terapi okupasi di antaranya adalah membantu si kecil menggunakan ketrampilan kognitif, fisik, sosial, dan motorik.

Terapi ini juga membantu si kecil untuk lebih mandiri. Pada umumnya saat sang anak akan melakukan terapi okupasi mereka akan dievaluasi sampai mana kemampuannya dalam belajar, bermain, peduli pada diri sendiri dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Sejumlah strategi terapi okupasi yakni:

  • Aktivitas fisik susun puzzle yang bermanfaat untuk kemampuannya mengkoordinasikan fungsi dan kesadaran tubuh
  • Menyisir rambut dan menggosok gigi
  • Meningkatkan kemampuan motorik melalui menulis dan memotong dengan gunting
  • Kekurangan terapi ini adalah ketersediaan layanan dan biaya yang diperlukan. Serta membutuhkan komitmen mengikuti program yang lama.

 

4. Terapi Wicara

Terapi wicara penting untuk anak autis yang mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi.

Dengan mengikuti terapi ini maka akan membantu si kecil dengan autisme agar bicaranya lebih mudah dimengerti.

Tingkat kesulitan anak autis dalam berbicara berbeda-beda. Di antaranya adalah ada yang suka bicara namun kesulitan mempertahankan percakapan, tak mengerti Bahasa tubuh hingga tak bisa bicara sama sekali.

Sejumlah terapi wicara yang bisa dilakukan yakni:

  • Diajarkan cara membuat bunyi ucapan yang jelas
  • Diajarkan cara memakai ekspresi wajah secara benar
  • Diajarkan modifikasi nada suara
  • Diajarkan cara menjawab pertanyaan

Terapi ini sangat penting dalam membantu si kecil untuk berkomunikasi sehingga ia bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dalam lingkungannya.

Namun untuk menjalani terapi wicara ini memang diperlukan biaya yang tidak sedikit.

 

Baca juga: Penerbit Buku Anak Terbaik Jogja

 

5. Terapi Pengembangan Hubungan

Terapi pengembangan hubungan bertujuan membangun ketrampilan emosional dan sosial bagi anak autis.

Adapun caranya adalah orang tua akan diajari oleh tenaga medis terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka akan menjadi terapis utama.

Manfaat dilakukannya terapi ini adalah hubungan anak dan orang tua menjadi dekat. Selain itu orang tua juga bisa melihat perkembangan si kecil.

Adapun sejumlah hal yang harus dicapai saat terapi yakni:

  • Refrensi emotional
  • Koordinasi sosial
  • Bahasa deklaratif
  • Berpikir fleksibel
  • Mengolah informasi rasional
  • Tinjauan ke masa depan dan masa lalu

Namun terapi ini juga memiliki kekurangan di antaranya adalah dibutuhkannya kesabaran dari orang tua untuk meluangkan waktu.

Selain itu belum banyak bukti mengenai keberhasilan terapi ini.

 

Baca juga: Mengenal dan Memahami Anak Autis

 

6. Terapi Pijat

Manfaat dari terapi pijat adalah meningkatkan peredaran darah pada tubuh si kecil.

Harapannya saat peredaran darah lancar maka distribusi oksigen dan nutrisi tak akan mengalami hambatan.

Sejumlah fokus pemijatan untuk anak autis adalah beberapa titik bagian kepala seperti ubun-ubun, tengkuk di bagian leher, pangkal tulang kepala dan area puncak samping kepala bersambung ke arah telinga.

Pijatan semacam itu bisa merangsang sistem saraf, menenangkan dan meningkatkan konsentrasi.

 

7. Diet Glutein dan Kasein

Salah satu hal yang banyak dipercaya adalah penyebab anak autis terletak pada kemampuannya dalam mencerna protein gluten dan kasein.

Bagaimana gluten dan kasein berpengaruh, hal itu karena keduanya susah dipecah menjadi asam amino tunggal untuk pencernaan anak autis.

Asam amino yang dipecah secara tak sempurna akan menjadi peptide yang bisa mempengaruhi kinerja syaraf.

Hal ini bisa berdampak pada emosi, perilaku dan sensitivitas anak autis yang tak stabil.

Untuk kebutuhan protein kasein dan gluten ini orang tua bisa memberikan protein hewani dari daging ikan dan ayam atau tahu tempe.

Adapun untuk konsumsi susu sapi sebaiknya diganti dengan susu kedelai atau kacang hijau.

 

***

 

Demikian pembahasan mengenai cara menangani anak autis. Baca juga: Cara Mendidik Anak Autis

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan