Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap!

cara menulis buku anak

Cara Menulis Buku Anak – Siapa bilang menulis buku anak atau buku cerita anak itu susah? Pasti yang mengatakannya nggak pernah mencoba untuk melakukannya.

Menulis buku anak itu tidak susah, tetapi mengasyikkan.

Mengapa?

Penyebab utamanya adalah karena setiap orang pasti mengalami masa kanak-kanak. Nah, dalam masa-masa tersebut, pasti terjadi berbagai kejadian:

  • lucu
  • menyedihkan
  • hingga memalukan.

Secara tidak sadar, seharusnya kamu bisa menjadikan pengalaman saat kanak-kanak tersebut sebagai ide dalam membuat cerita anak. Dengan kata lain, sebenarnya cerita anak adalah sesuatu yang lekat, dekat, dan akrab denganmu.

Walaupun …. tentu saja, ketika hendak menulis cerita anak, kamu juga tak bisa sembarangan dalam membuatnya.

Mengapa?

Karena memang ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan. Apa sajakah itu? Ini dia:

 

1. Temukan Ide

ide menulis buku anak

Walaupun memang pada dasarnya ide bisa datang dari mana saja dan berbentuk apa saja. akan tetapi, ketika ingin membuat buku anak atau buku cerita anak, pastikan hanya pilih ide-ide yang bisa memancing imajinasi anak.

Ide bagus ada di mana saja asal kita mau:

  • memperhatikan
  • melihat
  • menonton film
  • berpikir
  • mengolah intuisi
  • mendengar
  • membaca
  • menyimak
  • beraktivitas fisik

Terutama membaca, ini penting banget untuk mencari ide. Bahkan, bisa dikatakan, belajar mencari ide tulisan itu lebih mahal daripada belajar menyusun kalimat untuk menulis buku anak atau buku cerita anak.

Nggak percaya?

Coba saja sendiri.

Jangan lupa, sesuaikan ide dengan target pembaca tulisanmu, misalnya untuk usia batita, balita, atau anak-anak berumur 8-10 tahun.

 

2. Ide Bisa Datang dari Hal Tak Terduga

Seringnya, ide itu bisa berloncatan dengan sendirinya saat sedang main dengan anak-anak. Jadi, kadang kita tak perlu susah-susah mencari, nanti juga nongol-nongol sendiri.

Salah satu rahasia mendapatkan ide brilian adalah dengan sering bengong.

Serius!

Saat bengong bayangkanlah hal-hal yang imajinatif.

Misalnya, kukis yang bisa terbang, pohon yang jago main gitar, kucing yang punya kekuatan supert, dan lain sebagainya.

Pokoknya explore your wildest imagination, lah!

 

3. Jangan Lupa Mengikat Ide

mengikat ide penulisan buku anak

Ide harus diikat dengan cara menuliskannya. Kalau nggak kita ikat, ia akan lepas, hilang, dan menguap tanpa jejak.

Di mana dan kapan cara terbaik menuliskan ide? Sesegera mungkin setelah ide itu muncul di benak kita, catatlah. Tulis di mana saja dan kapan saja. Gunakan smartphone kita untuk mencatat atau merekam ide-ide yang berkeliaran tersebut.

Ingat, ide bagus itu mahal, segera catat sebelum kelupaan.

Nah, setelah ide-ide itu kamu amankan semuanya dalam bentuk catatan dan langkah selanjutnya adalah menyortir ide-ide tersebut.

Ada saatnya ide-ide bermunculan dengan mudah. Namun ada kalanya sama sekali tak ada ide untuk dijadikan cerita. Kalau ini terjadi carilah ide sampai dapat, jangan menunggu sang ide datang.

 

4. Memberi Ide Batasan

Sesudah mendapat ide dasar, tentukan akan dibawa ke mana ide tersebut. Misalkan:

  • Nilai atau pengetahuan macam apa yang mau kamu tanamkan kepada anak-anak.
  • Cerita seperti apa yang ingin kamu buat.

Prinsipnya, imajinasi bebas bukan berarti bisa melantur tanpa arah tujuan. Apalagi yang namanya cerita bergambar, biasanya untuk anak usia dini. Nah, anak usia dini belum bisa memilih buku bacaannya sendiri, pasti orang tuanya yang membelikan.

Dengan kata lain, orang tuanya tentu saja akan memiliki buku anak atau buku cerita anak yang memiliki keunikan dan pesan kuat di dalam ceritanya.

 

5. Tentukan Format

format buku anak

Tentukan format bukumu nantinya seperti apa, seperti:

  • jumlah halaman plus judul
  • jumlah kalimat per halaman
  • jumlah kata per kalimat
  • berima ataukah tidak
  • bentuk pantun atau narasi
  • jumlah ilustrasi

Format ini tentu saja bisa diacak-acak lagi oleh editor nanti, tapi paling tidak saat mengajukan naskah ke penerbit, kamu sebagai penulis sudah punya konsep dulu tentang format yang diinginkan.

 

6. Tentukan Target Pembacamu

Ketika kamu berpikir tentang ide ceritamu, kira-kira berapa rentang umur anak-anak yang akan membaca karyamu?

Untuk itu, gaya penulisanmu harus disesuaikan dengan kelompok umur yang spesifik.

Supaya mempermudah gambaranmu, kamu dapat mengelompokannya sebagai berikut:

  • Anak umur 2-6 tahun
  • Anak umur 7-11 tahun
  • Anak di atas 12 tahun

Anak-anak dengan umur 5 dan 6 tahun kemungkinan akan membaca lebih banyak kata ketimbang anak yang berumur 3 tahun.

Ini merupakan hal yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan kapan kamu dapat menentukan jumlah gambar dan kata di dalam bukumu.

 

7. Buatlah Kerangka Cerita

tema buku anak

“Jika kamu ingin menulis naskah yang bagus, terlebih dulu kau harus membuat outline atau kerangka tulisan yang bagus.”Brad Zomick

Susunlah kerangka cerita yang akan kamu tulis dengan rapi dan benar. Beberapa hal yang perlu kamu catat dengan rapi dan benar adalah:

  • siapa saja tokoh dan karakternya
  • bagaimana alurnya
  • kapan setting ceritanya
  • seperti apa ending-nya.

Ingat, pilihlah tokoh, karakter, setting, alur, dan ending yang unik agar melekat erat di ingatan anak ketika membaca karyamu tersebut. Selain itu, gunakan cerita yang menarik, memancing daya imajinasi, kreatif, dan membuat anak berpikir kritis terhadap isi cerita.

Beberapa penulis kadang-kadang melewatkan tahap ini. Mereka hanya mengandalkan ingatannya saja, dan biasanya tiba-tiba menulis apa yang ada di kepalanya.

Sebaiknya kita tetap membuat kerangka atau outline ini agar tulisan kita punya konsistensi dan alur yang baik. Kita akan dengan mudah memandang alur tulisan dengan hanya membaca kerangkanya saja.

 

8. Tentukan Tema

Buku cerita anakmu perlu sebuah tema yang dapat menarik perhatian targetmu. Apa yang penting untuk mereka?

Kamu harus menentukan dan membayangkan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Apa kesulitan yang ada di umur-umur mereka dan bagaimana penyelesaian yang baik.

Jangan menulis dari perspektif orang dewasa.

Masuklah ke dalam pikiran anak-anak dan jangan memberi solusi yang rumit. Semakin sederhana semakin baik.

Dengan begitu, anak-anak dapat mengidentifikasi masalahnya secara visual sebaik tulisan naratif dan gambar ilustrasimu.

 

9. Pemilihan Kata dan Bahasa

konten buku anak

Gunakan bahasa yang sederhana. Sekali lagi, gunakan bahasa yang sederhana. Jangan menggunakan bahasa yang rumit untuk dipahami oleh anak.

Jangan memakai kata-kata bersayap atau ambigu yang justru membuat anak bingung.

Cobalah masuk ke dalam dunia anak, selami cara mereka berbicara, berpikir, tak lupa perbanyak membaca buku cerita anak, sehingga kamu lebih peka serta bisa memilih kata yang dipahami pembaca yang masih berusia kecil tersebut.

 

10. Membuat Opening yang Menarik

Opening cerita merupakan magnet yang akan menarik anak membaca ceritamu. Kamu dapat memilih beberapa teknik opening cerita misalnya:

  • deskripsi orang
  • deskripsi waktu
  • deskripsi tempat
  • deskripsi konflik
  • dialog

 

11. Ending yang Menarik

Hindari ending menggantung. Usahakan menciptakan akhir cerita yang bahagia, atau setidaknya membuat pembaca cilik merasa lega dan puas.

Penyelesaian konflik sebaiknya dilakukan oleh tokoh utama, atau tokoh yang lebih tua, misalnya Kakak atau tokoh pahlawamannya.

Ingat, jangan mematikan tokoh antagonis atau pemeran utama atau tokoh baiknya. Agar hal ini tak menggangu psikologis sang anak.

 

12. Pengembangan Cerita

membuat buku cerita anak

Semua penulis harus dapat membawa perasaan pembacanya. Cerita harus dibangun naik dan turun supaya tidak monoton.

Jangan kira, anak-anak pun sudah dapat merasakannya. Ceritakan saja bila ada kejadian sedih, bila ada kejadian marah, dan lain-lain karena hal-hal itu merupakan bagian dari hidup.

Dengan adanya berbagai macam emosi itu, anak-anak dapat lebih peka terhadap segala situasi.

Poin-poin penting yang harus diingat:

  • Permulaan yang halus
  • Mulai bertemu masalah
  • Puncak masalah
  • Solusi
  • Resolusi

Permulaan harus dimulai dengan halus, jangan langsung memperlihatkan masalah besar. Hal ini supaya tidak mengagetkan anak.

Kemudian mulai bertemu masalah. Pastikan tetap logis, ada pertanyaan kenapa yang mendasarinya.

Lalu puncak masalah: bagaimana.

Dilanjutkan dengan solusi, dan jangan lupa resolusi ke depannya supaya anak-anak merasakan bahwa buku cerita anakmu dapat memberikan petuah baik tidak hanya saat masalah ada, tetapi hal-hal baik yang perlu dilakukan ke depannya.

 

13. Sisipkan Pesan Moral

Hal ini bagian paling penting dan krusial: buatlah pesan moral yang tidak terkesan menggurui.

Caranya?

Hadirkan tokoh dewasa yang menyampaikan pesan bijak dan biarkan anak yang menyimpulkan sendiri ceritamu. Jadi, kita meminjam ‘mulut’ si tokoh dewasa untuk memberi tahukan hal-hal baik kepada pembaca cilik kita.

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penulisan cerita anak . Kita memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, misalnya pengetahuan, informasi, dan hiburan.

Dalam menulis cerita, kita ingin menyisipkan pesan moral. Sangat baik kalau cerita tidak menggurui. Biarlah anak menyimpulkan sendiri cerita yang kita tulis.

Kemudian bagaimana cara menyajikannya?

Tentu yang menarik lebih disukai.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, jangan menggunakan kata-kata yang bersayap dahulu. Gunakan bahasa yang baik dan benar, tapi tetap ceria.

Karena anak-anak itu seperti gelas yang kosong. Kita ikut mengisi gelas itu. Yang mendidik anak adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (termasuk kita media massa dan para penulis cerita anak). Karena pertanggung jawaban moral kita lebih besar, karena kita ikut mendidik.

 

14. Berkolaborasi dengan Ilustrator

kolaborasi penulis buku anak

Biasanya, kamu harus mengajukan naskah terlebih dahulu ke penerbit. Setelah penerbit ACC, barulah mencari ilustrator.

Fee ilustrator pun biasanya akan di-handle langsung oleh penerbit.

Tanpa ilustrasi, naskah kamu itu takkan ada apa-apanya. Dengan batuan para ilustrator andal itulah cerita bisa jadi lebih hidup.

Jadi, jangan remehkan peran ilustrator di dalam buku cerita anak, ya.

 

15. Tentukan Deadline Menulis

Kita perlu konsisten dalam menetapkan target (deadline) sendiri.

Seperti kata Andrias Harefa, ”Kalau seorang penulis tak bisa memenuhi janjinya sendiri bagi menulis, lebih baik jadi politisi saja”.

Penentuan jadwal dan target yang jelas, bisa membuat tulisan yang telah dimulai menjadi selesai.

Tanpa ada keinginan yang kuat dalam diri kita untuk menyelesaikan naskah buku anak, maka jangan berharap kita bisa menjadi seorang penulis.

Buatlah jadwal atau agenda untuk menyelesaikan tulisan kita. Memang, sebagian besar penulis tak mau membuat agenda khusus bagi naskah yang akan ditulisnya, akibatnya buku hal yang demikian sering terbengkalai dan ngak pernah selesai.

Sebaiknya kita bagi membuat agenda yang jelas, sehingga punya target bagi menyelesaikannya.

Deadline dibuat agar kita nggak banyak alesan!

 

16. Melaksanakan Riset

riset menulis buku cerita anak

Menulis hanya dengan mengandalkan ingatan saja tentu tak cukup, kita memerlukan berjenis-jenis data sebagai referensi tulisan yang akan kita buat.

Data hal yang demikian bisa bersumber dari sesuatu yang kita baca dan kita catat, seumpama dari buku, majalah, surat kabar atau surfing di internet.

Atau bisa juga hasil dari menonton televisi atau film, mendengarkan radio, mewawancarai seseorang dan lain sebagainya.

Kumpulkan semua data dalam satu tempat agar mudah mencarinya. Pastikan bahwa data yang Kita miliki valid dan akurat, sehingga apa yang kita tulis dapat dipertanggung jawabkan.

Menulis buku anak, terkadang juga membutuhkan referensi yang akurat. Misalkan jenis-jenis belalang, atau jenis-jenis ikan paus, dan lain sebagainya.

Intinya, jangan sampai kita malas riset dan akhirnya justru memberikan informasi yang salah kepada pembaca cilik kita.

Bisa berabe!

 

17. Temukan Waktu Terbaik untuk Menulis

Setiap penulis punya kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang menyediakan waktu khusus, ada pula yang tidak menyediakan waktu khusus, alias bisa kapan saja.

Akan tetapi, tak ada salahnya kamu menentukan kapan harus menulis, agar jadwalmu bisa tertata dengan rapi.

Misalkan, menulis di pagi hari setelah bangun tidur, atau justru malam hari sebelum tidur.

Semua tergantung kebiasaan kita.

Terpenting, mulailah menulis dan jangan cari alasan yang membenarkan kemalasan kita untuk tidak menulis buku anak dan menyelesaikan karya berupa buku cerita anak.

Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus membiasakan diri menulis.

Kate Di Camillo, yang memenangkan penghargaan Newberry Book via buku anak-anaknya “The Desperaux” (penghargaan ini juga diperoleh Laura Ingalls Wilder melalui karyanya yang terkenal “Little House on the Praire“) mengaku menulis sebanyak dua halaman setiap subuh selama lima hari, mulai dari Senin sampai Jumat, sebelum ia berangkat aktivitas ke warung buku.

 

18. Apa Keunikan Naskahmu?

waktu terbaik menulis buku anak

Pertanyaan penting ketika menulis buku cerita anak adalah:

  • Apa yang membuat naskahmu unik?
  • Bagaimana ceritamu dapat menjadi unik?

Sebagaimana kata Pandi Pragiwaksono, “Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik.” Dengan kata lain, naskahmu harus memiliki keunikan, entah dari segi:

  • Cerita
  • Penokohan
  • Pengemasan bukunya
  • Ilustrasinya

Atau pun bentuk-bentuk lainnya yang membuat naskahmu berbeda dan unik. Mengapa harus beda alias unik?

Ya karena nanti bukumu akan bertarung di pasar. Bila tidak unik, tak akan mudah ditemukan oleh pembaca dan tidak akan bisa terjual dalam jumlah yang banyak.

Tentu kamu nggak ingin hal itu terjadi, bukan?

Oiya, menulis buku cerita anak bukan proses sekali jadi. Kamu harus berhati-hati karena anak-anak sangat cepat menyerap informasi yang dikonsumsinya.

 

19. Kirim ke Penerbit

Harus kita akui, bahwa ketika kita sudah selesai membuat sebuah buku anak, hal tersebut merupakan sebuah prestasi tersendiri.

Mengapa?

Karena kita sudah melewati sekian rintangan, seperti:

  • Bad mood
  • Susahnya mengatur waktu
  • Kesibukan harian
  • dan bentuk halangan lainnya.

Oleh karena itu, ketika naskah buku cerita anak sudah selesai, kirimkanlah ke penerbit yang menerima terbitnya buku anak, misalnya adalah Penerbit Buku Anak yang merupakan milik Penerbit Charissa.

Bagaimana kalau ingin menerbitkannya sendiri?

Ya nggak apa-apa. Akan tetapi, kamu harus mempertimbangkan faktor modal, cara menjual, dan juga faktor-faktor lainnya. Bila kamu ingin repot dengan hal-hal tersebut, ya silakan untuk diterbitkan sendiri. Akan tetapi, bila tak ingin repot, kirim saja ke penerbit buku yang memang menerbitkan buku anak.

 

20. Kunci Penting dalam Menulis Buku Cerita Anak

keunikan naskah buku anak

Salah satu hal penting dalam menulis buku anak adalah: keinginan kuat. Mengapa? Jelas, karena tanpa keinginan yang kuat, kita tak akan pernah menyelesaikan karya apa pun, termasuk dalam menulis buku anak.

Misalkan, ketika kita selalu mengeluh karena banyaknya kesibukan hingga tak sempat menulis buku cerita anak, maka sebenarnya itu bermula dari lemahnya keinginan.

Saat keinginan kita kuat, gunung pun akan kita daki dan taklukkan.

Dengan kata lain, saat kita memiliki keinginan yang kuat untuk menyelesaikan karya berupa buku anak, maka permasalahan seperti kurangnya waktu, gempuran bad mood, dan lain sebagainya, akan hilang dengan sendirinya.


Artikel Rekomendasi

12 Komentar

  1. […] Anak Agustus 31, 2020 Hari Buku Anak Sedunia dan Peran Penting Andersen Agustus 11, 2020 Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! Juli 25, 2020 Previous […]

  2. […] Anak Agustus 31, 2020 Hari Buku Anak Sedunia dan Peran Penting Andersen Agustus 11, 2020 Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! Juli 25, 2020 Previous […]

  3. […] Anak Agustus 31, 2020 Hari Buku Anak Sedunia dan Peran Penting Andersen Agustus 11, 2020 Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! Juli 25, 2020 Previous […]

  4. […] Anak Agustus 31, 2020 Hari Buku Anak Sedunia dan Peran Penting Andersen Agustus 11, 2020 Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! Juli 25, 2020 Previous […]

  5. […] Anak Agustus 31, 2020 Hari Buku Anak Sedunia dan Peran Penting Andersen Agustus 11, 2020 Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! Juli 25, 2020 Previous […]

  6. […] Baca juga: Cara Menulis Buku Anak: 19+1 [Panduan Super Lengkap!] […]

  7. […] Baca Juga: Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! […]

  8. […] berani untuk merutinkan diri menulis. Untuk panduan lebih lengkapnya, Anda bisa belajar mengenai Cara Menulis Buku Anak. Silakan dibaca pada tautan tersebut, […]

  9. […] isi di kolom komentar, ya. Dan bila ingin lebih jauh menjadi penulis buku anak, tentu saja pelajari Cara Menulis Buku Anak yang sudah kami rangkumkan sebaik mungkin dan bisa Anda pelajari dan […]

  10. […] Pembahasan lebih lengkap mengenai hal tersebut sudah kami rangkumkan dalam postingan Cara Menulis Buku Anak: 19+1 Panduan Super Lengkap! […]

  11. […] Demikian beberapa ide dan gagasan mengenai cara menumbuhkan minat baca anak usia dini. Semoga bisa mendapatkan wawasan dan inspirasi. Bila ada pertanyaan dan bahan diskusi, silakan lanjut di kolom komentar, ya. Dan jangan lupa, klik tautan berikut untuk mengetahui Cara Menulis Buku Anak. […]

  12. […] mengenai cara menyalurkan hobi menulis. Jangan lupa, silakan klik tautan berikut untuk belajar Cara Menulis Buku Anak. Ada banyak tips menarik yang bisa kamu telaah untuk belajar menulis buku […]

Tinggalkan Balasan