Cerita Pendek untuk Anak yang Inspiratif: Ortu Harus Bacain Nih!

Cerita Pendek untuk Anak

Cerita Pendek untuk Anak – Membacakan cerita untuk anak memiliki sejumlah manfaat. Diantaranya adalah meningkatkan ikatan batin antara anak dan orang tuanya.

Tak perlu membacakan cerita yang terlalu panjang. Membacakan cerita anak cukup cerita yang pendek-pendek saja.

Harapannya supaya si kecil lebih mudah dalam menangkap cerita yang dibacakan orang tua.

Selain itu jika cerita tidak terlalu panjang maka anak tidak akan merasa cepat bosan.

Untuk orang tua yang saat ini tengah mencari cerita pendek untuk anak-anaknya, berikut ini cerita yang bisa dicoba dibacakan orang tua:

 

1. Kelinci dan Kura-Kura

Dongeng kelinci dan kura-kura merupakan salah satu cerita populer. Cerita ini berkisah mengenai kelinci yang diberi pelajaran oleh kura-kura lantaran ia begitu sombong.

“Pada suatu hari hiduplah seekor kelinci yang sombong karena ia mampu berlari begitu cepat.

Suatu ketika ia bertemu dengan kura-kura yang lamban. Kelinci tersebut kemudian mengejek si kura-kura dengan menyebutnya sebagai binatang yang lamban dan sombong.

Kelinci lantas menantang si kura-kura untuk beradu lari.  Sebenarnya, kura-kura malas dengan tantangan tersebut. Akan tetapi ia ingin memberi pelajaran pada si kelinci.

Jadilah si kura-kura menerima tantang tersebut.

Sejumlah hewan-hewan komplek kemudian berkumpul untuk menyaksikan pertandingan itu. Mereka mendukung kura-kura karena sebenarnya mereka tidak begitu menyukai kelinci yang sombong.

Dengan pongah si kelinci sangat yakin ia bisa mengalahkan kura-kura yang lambat jalannya.

Merekapun kemudian menentukan jalur panjang yang nantinya akan dilewati saat adu lari.

Kera ditunjuk sebagai orang yang akan menjadi wasit untuk pertandingan tersebut. Ketika pertandingan baru saja dimulai, kelinci berlari melesat jauh meninggalkan kura-kura.

Karena merasa yakin kura-kura masih sangat jauh, kelinci pun memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Kura-kura yang akhirnya melewati kelinci tidak membangunkannya.

Sehingga saat kelinci terbangun ia kaget karena kura-kura telah sampai di garis finish. Ia akhirnya pulang dengan rasa malu”.

Hikmah dari cerita ini adalah mengajarkan kepada si kecil untuk tidak sombong.

 

2. Semut dan Belalang

“Pada suatu hari di sebuah hutan hiduplah seekor semut dan belalang. Semut adalah seekor hewan yang sangat rajin bekerja. Sementara belalang adalah hewan yang suka sekali bermalas-malasan.

Saat si semut terus bekerja mengumpulkan persediaan makanan, belalang datang menggodanya.

‘Hai semut, kenapa kamu rajin sekali? Padahal bahan makanan banyak tersedia?” tanya belalang.

Semut menjelaskan bahwa ia bekerja untuk persediaan musim dingin. Belalang kemudian menjawab bahwa musim dingin masih lama, namun semut tak mengindahkan dan ia masih bekerja keras.

Adapun belalang ia tetap berleha-leha dan bersantai bahkan hingga musim dingin hampir tiba.

Saat akhirnya musim dingin telah tiba, siapa sangka bahwa musim dingin datang lebih lama dibandingkan biasanya.

Semut yang bekerja keras, bisa hidup tenang karena persediaan makanannya ada begitu banyak.

Namun belalang yang baru bekerja menjelang datangnya musim dingin kebingungan. Ia hanya mengumpulkan persediaan makanan terbatas.

Ia akhirnya meminta tolong semut. Awalnya semut enggan menolong karena itu akibat ulah belalang sendiri. Namun saat belalang hampir mati kelaparan, akhirnya ia tidak tega dan memberikan persediaan makanannya pada semut”.

Moral dari cerita ini adalah jangan bermalas-malasan. Selain itu adalah kita harus saling tolong-menolong.

 

membacakan cerita pendek untuk anak

 

3. Kupu-Kupu Berhati Mulia

“Suatu hari seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia begitu gembira menikmati udara pagi yang segar dan cuaca yang cerah.

Saat ia melintas di bawah sebuah pohon, matanya tertuju pada seekor kepompong yang tengah menggantung.

“Hai kepompong, buruk sekali nasibmu. Sudah jelek hanya bisa bergelantungan di sana tak bisa kemana-mana,” ujar semut mengejek.

Namun kepompong tak menanggapi. Ia tetap diam membiarkan semut mengejeknya.

Singkat cerita, suatu hari semut tengah berjalan di dekat taman. Namun ia kaget saat tiba-tiba ada cipratan lumpur dalam jumlah banyak hingga membentuk kubangan dan membuatnya terkubur.

Semut meronta-ronta, meminta tolong agar ada yang menyelamatkannya.

Saat itulah ada seekor kupu-kupu yang terbang. Kupu-kupu tersebut kemudian mengambil satu batang ranting dan mengarahkan pada semut.

Semut akhirnya selamat. Ia lantas mengucapkan terima kasih. Namun alangkah terkejutnya ia karena ternyata kupu-kupu yang datang menolongnya adalah kepompong yang dulu pernah ia ejek.

Sejak saat itu semut berjanji untuk tidak akan mengejek lagi makhluk hidup yang lain”.

Moral cerita ini adalah kita harus bisa menghargai sesama manusia karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan membutuhkan bantuan orang tersebut.

 

Baca juga: Penerbit Buku Anak Terbaik di Jogja

 

4. Pasir dan Batu

“Suatu ketika ada dua orang sahabat yang tengah berjalan di atas pasir. Saat dalam perjalanan ia kemudian terlibat dalam suatu perdebatan hingga salah satu dari mereka menampar yang lain.

Sahabat yang ditampar itu tak berkata apapun namun kemudian ia menuliskan kata-kata di pasir.

Tulisan tersebut berbunyi, “hari ini teman baikku menamparku,”. Walaupun mereka bertengkar mereka kemudian melanjutkan perjalanan bersama.

Mereka kemudian menemukan sumber air dan memutuskan untuk mandi. Sayangnya teman yang ditampar tadi tergelincir ke dalam arus yang deras.

Ia hampir tenggelam, namun sahabatnya segera menolongnya dan ia pun akhirnya selamat.

Ia kemudian tak berkata apapun namun kembali menulis. “Hari ini teman baikku menyelamatkanku,” tulisnya pada sebuah batu.

Teman yang telah menampar dan menyelamatkannya kemudian bertanya.

“Mengapa saat aku menyakitimu kamu menulis di atas pasir. Sedangkan saat aku membantumu kamu mengukirnya pada batu?”

Kemudian sahabatnya menjawab. “Ketika seseorang menyakiti, kita menulisnya di atas pasir agar angin dapat menerbangkannya dan hilang sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukaan hal yang baik, kita harus mengukirnya pada batu. Dimana angin tidak dapat menghapus tulisannya sehingga kita akan selalu mengingatnya,” ujarnya.

Sahabat tersebut hanya mengangguk-angguk mengerti.”

Moral dari cerita ini adalah dalam persahabatan adakalanya kita terlibat perdebatan, namun kita harus bisa kembali saling memaafkan.

 

***

 

Demikian cerita pendek untuk anak. Semoga bisa menjadi inspirasi kisah yang layak untuk diceritakan kepada anak dengan baik sehingga bisa membentuk karakter yang baik pada mereka.

 

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan