Dian Nofitasari

Wawancara Penulis Buku Anak: Dian Nofitasari

Narasumber kita kali ini adalah Dian Nofitasari, salah seorang penulis produktif yang sudah menulis beberapa buku anak. Nah, kita akan mengulik apa saja yang menjadi perhatiannya dalam dunia literasi buku anak dan apa saja idealisme sebagai seorang penulis buku anak.

Selamat menyimak.

Gimana Rasanya Menjadi Penulis Buku Anak?

Menjadi penulis buku anak adalah salah satu sumber kebahagiaan saya. Kenapa? Karena cerita yang saya tulis bisa dibaca oleh banyak anak. Membayangkan saya menjadi bagian dari masa kecil seseorang membuat saya bahagia.

Selain bahagia, kadang saya juga merasa cemas. Apakah cerita yang saya tulis bisa menjadi teman yang baik bagi anak-anak? Apa anak-anak bisa mengambil hal baik dari cerita saya? Apa orang tua nyaman membacakan cerita saya?

Saya juga merasa perlu terus bersyukur untuk kesempatan menjadi penulis buku anak. Dengan mejadi penulis buku anak, saya bisa membacakan anak-anak saya buku yang saya tulis. Saya bisa melihat binar kebahagiaan di wajah mereka saat buku terbaru saya datang. Saya juga bisa terus mendampingi mereka sekaligus berkarya dari rumah.

 

Seberapa Penting Kualitas Penulis Buku Anak?

Wow, tentu itu sangat penting. Target pembaca kita kan bukan hanya anak-anak sebenarnya, melainkan juga orang tua. Keputusan membeli atau tidak biasanya ada pada orang tua.

Sebelum membacakan untuk anak, orang tua juga perlu membacanya terlebih dulu. Tentunya, dampak dari yang kita tulis tak hanya untuk anak-anak, tetapi bisa juga mempengaruhi orang tua.

Oleh karena itu, seorang penulis buku anak perlu benar-benar memperhatikan kemampuannya mengolah ide agar ramah anak dan orang tua.

 

Siapa Sih yang Pantas Menjadi Penulis Buku Anak?

Siapa saja asalkan dia sanggup terus belajar tentang dunia anak. Dunia anak di sini sangat luas. Bukan hanya tentang mainan atau hal yang disukai anak, melainkan juga tentang dunia pengasuhan.

Paket komplit, lah!

Dengan begitu, kita bisa menulis cerita yang ramah anak dan menarik bagi orang tua.

 

Apa Penerbit Buku Anak Favoritmu?

Grasindo, karena buku solo perdana saya terbit di sana. Hehehe. Editornya juga ramah. Lalu, penerbit mendukung sekali kegiatan promo yang dilakukan penulis, meskipun masih baru.

BIP, karena tema bukunya beragam. Ilustrasinya juga bagus-bagus.

Funtastic, karena naskah pertama saya di-acc pertama kali di sana. Hehehe. Selain itu, tema-tema ceritanya juga segar dan kekinian.

Charissa, karena editornya ramah. Hehehe. Sebelum pandemi, banyak melakukan kegiatan promo untuk buku-buku baru. Penerbit ini juga mendukung penuh kegiatan promo yang dilakukan penulis, meski baru menerbitkan satu buku di sana.

Kanak, karena tema-tema yang diusung unik. Penerbit ini juga berani melakukan terobosan dan membuat kegiatan- kegiatan promo untuk penulisnya.

 

Baca Juga: Penerbit Buku Anak Paling Berkualitas di Indonesia

 

Ceritakan Bagaimana Proses Kreatifmu dalam Menulis Buku Anak ….

Tring!

Ide bisa muncul kapan saja. Sesegera mungkin saya membuat catatan tentang ide itu. catatan bisa berupa garis besar cerita atau paragraf pendek tentang rancangan cerita.

Ingat-Ingat

Saya mencoba menggali pengalaman. Apa ide itu berhubungan langsung dengan saya? Apa saya pernah mengalami kejadian yang berhungan dengan ide tersebut? Adakah hal unik yang bisa digali?

Riset

Ini adalah riset awal. Riset ini bertujuan mengumpulkan data atau referensi yang cukup untuk mengembangkan ide yang sudah saya dapat. Riset paling mudah adalah membaca buku. Buku bisa berupa buku yang keilmuannya sesuai dengan ide atau buku cerita anak dengan tema sejenis. Buku pendukung tentu saja bisa membuat saya menulis dengan dasar ilmu yang tepat.

Nah, buku anak lain akan membuat saya menuliskan hal yang berbeda. Bukankah tak pernah benar-benar ada ide yang baru? Jadi, yang bisa kita lakukan adalah menyampaikannya dengan cara yang berbeda.

Tulis

Biasanya saya membuat rancangan tokoh dan alur cerita terlebih dahulu. Rancangan tokoh ini membuat saya bisa membuat dialog yang pas sesuai dengan karakter si tokoh. Rancangan alur cerita biasanya saya bagi menjadi tiga bagian, yaitu, Awal, Tengah, dan Akhir.

Rancangan alur ini akan membantu saya tetap pada jalur cerita dan tentunya memudahkan saya tetap fokus pada cerita. Selain itu, saya juga bisa menghindar dari writer’s block.

Endapkan

Selama mengendapkan cerita, saya biasanya kembali membaca buku-buku dengan tema sejenis. Saat membaca, saya mengingat kembali cerita yang sudah saya tulis.

  • Kira-kira sudah berbeda belum?
  • Apa ada yang perlu ditambah atau dikurangi?

Sunting

Setelah diendapkan, saya membaca lagi naskah yang sudah selesai ditulis. Biasanya saya baca nyaring. Dengan begitu, saya bisa cek mana kalimat yang terlalu panjang. Saat membaca nyaring, saya bayangkan saat itu saya sedang membacakan untuk anak saya.

Kenapa tidak langsung dibacakan ke anak saya saja? Tunggu. Hal itu tetap saya lakukan, kok. Namun, biasanya saya bacakan ke anak-anak saya setelah selesai saya sunting.

Oke, setelah saya baca nyaring, saya cek tanda baca, kata penghubung, dan kata-kata yang meragukan. Jadi, sesi sunting ini akan diisi dengan membuka PUEBI dan KBBI berulang kali.

Penyuntingan juga adalah waktu bagi saya untuk mengadakan riset ulang. Andaikan ada fakta keilmuan yang saya sampaikan dalam cerita, saya perlu cek ulang.

  • Apakah fakta sudah sesuai dengan referensi?
  • Apa referensi saya sudah cukup?

Nah, setelah saya rasa sudah pas, saya baru bacakan naskah itu ke anak-anak saya. Saya diskusikan dengan mereka.

  • Bagaimana ceritanya?
  • Apa seru?
  • Apa aneh?
  • Adakah yang perlu diubah?

Sebelum saya mengirim ke penerbit, saya akan cek beberapa kali lagi naskah itu.

 

Apa Saja Buku Anak yang Sudah Kamu Tulis?

Puluhan antologi yang terbit indie dari tahun 2018. Beberapa buku lain:

  • Semarak Idul Adha di 5 Benua 20 Negara (Penerbit Ziyad, 2018)
  • Cerita dan Lagu Anak (Grasindo, Agustus 2019)
  • Cerita Rakyat Pilihan 34 Provinsi di Nusantara (Penerbit Checklist, Oktober 2019)
  • Kisah penuh Kasih Sayang (Elexkidz, November 2019)
  • Orangtuaku Unik dan Aku Bangga (Penerbit Kanak, Maret 2020)
  • Kenapa Ayah Tidak Pulang? (Seri Cerita Korona, Charissa Publisher, Juni 2020)

Buku karya Dian NofitasariBuku karya Dian Nofitasari 1

 

Berapa Lama Biasanya Menulis Satu Buku Anak?

Tergantung jenis bukunya, sih. Jika satu buku hanya ada satu judul, bisa selesai dalam waktu seminggu. Bahkan jika sedang banyak kesempatan menulis, bisa selesai lebih cepat. Jika dalam satu buku ada beberapa judul, bisa sampai sebulan baru selesai.

 

Kesulitan Apa yang Dialami Ketika Menulis Buku Anak?

Tantangan terbesar adalah menemukan keunikan dari sebuah tema. Apalagi saya adalah penulis baru, sudah ribuan buku yang dibuat sebelum saya menulis. Jika saya ingin naskah saya diterbitkan, tentunya saya harus membuatnya berbeda dari buku-buku yang sudah ada.

 

Dari Mana Biasanya Mendapatkan Ide Ketika Menulis Buku Anak?

Ide bisa datang dari mana saja, di antaranya:

  • Membaca buku
  • Menonton film
  • Mengingat pengalaman yang berkesan
  • Mendengarkan cerita teman
  • Berjalan-jalan
  • Mendengarkan lagu
  • Mengamati anak-anak
  • Mengamati lingkungan sekitar

 

Apa Peran Penting Editor bagi Seorang Penulis Buku Anak?

Penemu

Editor adalah jalan masuk naskah ke penerbit. Dialah yang menemukan naskah sesuai untuk anak-anak.

Pemindai

Dengan editor akan memindai hal-hal yang perlu diperbaiki dalam naskah. Apa saja? Tanda baca, kalimat efektif, diksi, dan semua unsur intrinsik cerita. Editor akan memiliki sensor tepat untuk itu semua.

Penyelaras

Editor akan menyelaraskan unsur-unsur dalam cerita agar lebih pas dan cerita jadi lebih enak dibaca oleh anak. Editor juga akan menjadi penyelaras antara karya penulis dengan selera anak-anak dan orang tua mereka. Ide penulis akan menjadi karya yang diminati anak-anak dan orang tua.

Pendukung

Editor akan mendukung penulis menyelesaikan naskah hingga siap terbit. Editor akan mendorong penulis tetap bersemangat saat naskah perlu diperbaiki.

 

Apa Harapan Kamu untuk Dunia Penerbitan Buku Anak di Indonesia?

Harapan saya, penerbit buku anak makin beragam menyediakan buku, baik tema maupun bentuknya. Buku-buku dengan fitur sudah semakin banyak diproduksi. Hal itu adalah tanda yang baik.

Semoga di masa yang akan datang, fitur yang ditampilkan semakin banyak dengan tanpa mengabaikan kualitas cerita.

Sehubungan dengan masa pandemi, semoga para penerbit buku anak bisa bersemangat menerbitkan buku-buku baru.

 

Apa Saja Judul Buku Anak Favoritmu? Mengapa Kamu Menyukainya?

Dongeng Sekolah Tebing (Clara Ng)

Buku ini bercerita tentang hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Menariknya, ada banyak sudut pandang yang dipakai dalam buku ini. Ada cerita dari sudut pandang tokoh manusia, ada cerita dari sudut pandang kucing, tikus, kupu-kupu, sapi, dan hewan lain. Ceritanya hangat, imajinatif, dan tetap seru.

Sewaktu saya masih mengajar, saya membacakan buku ini untuk murid-murid saya. Tiap hari Selasa, saya bacakan satu cerita. Murid-murid saya benar-benar menyukai dan merasa terhubung dengan buku ini.

Akhirnya, saat saya berkesempatan bertemu dengan Clara Ng di sebuah acara, kami membuat sebuah surat untuk beliau. Beliau pun membalasnya melalui email saya. Murid-murid saya sungguh bahagia.

Mom, Dad, I love You (Arleen A.)

Buku ini bercerita tentang orang tua. Cara menceritakannya sungguh menarik. para orang tua di sini digambarkan memiliki karakter yang cukup berbeda dari buku serupa. Buku ini memotret orang tua dengan cara lucu atau sedikit konyol, tapi tak menghilangkan mereka sebagai sosok yang penyayang. Tetap imajinatif, tapi menyentuh.

Ini adalah salah satu buku favorit anak saya juga. Bahkan, berkat buku ini, saya jadi memiliki ide untuk menulis cerita tentang orang tua.

Bukunya sudah terbit, lho!

Detektif Ben (Watiek Ideo dan Fitri Kurniawan)

Saya menyukai buku ini karena dalam buku ini sains bisa digabungkan dengan imajinasi. Konflik cerita dihubungkan dengan keunikan para hewan. Hasilnya? Cerita yang menarik, tidak menggurui, dan seru.

Saya sebagai orang dewasa merasa belajar hal baru juga. Anak saya yang suka sekali fabel, tertarik karena banyak pengetahuan yang disampaikan dengan ringan. Buku ini juga menginspirasi saya menulis tentang serangga.

Hehehe, moga-moga bisa segera terbit di Charissa, yaa.

 

Siapa Penulis Buku Anak Favoritmu? Mengapa?

Clara Ng

Beliau adalah penulis buku anak pertama yang membuat saya jatuh cinta pada cerita anak. Cerita-ceritanya membuat saya bersemangat membacakan buku pada anak-anak saya. Cerita-ceritanya kadang sederhana, tapi hangat.

Pesan moral yang disampaikan juga tidak menggurui. Bahkan saat mengajak anak belajar berhitung pun, beliau menyampaikan tanpa menggurui dan imajinatif.

Hal-hal yang diceritakan anak-anak banget dan ada di sekitar kita tapi tetap disajikan dengan menarik. Mengenal cerita-cerita yang ditulis beliau membuat saya berusaha mengasah kepekaan terhadap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya.

Arleen A.

Beliau adalah penulis dongeng terbaik. Imajinasinya luar biasa! Hal-hal yang kadang tak terpikirkan, bisa beliau tulis jadi dongeng yang menarik. Kemampuannya menulis cerita anak dalam bentuk narasi juga keren. Bahkan, tanpa ada dialog pun, cerita yang dia tulis tidak membosankan.

Keberaniannya menggabungkan tokoh hewan dan manusia juga mengagumkan.

Bisakah kau bayangkan ada seekor beruang hidup di tengah-tengah manusia dan melakukan kegiatan yang sama? Arleen bisa menuliskannya dan membuat cerita itu tampak “wajar”.

Bisakah kau membayangkan seorang anak denga binatang peliharaannya? Anjing? Kucing? Arleen memilih binatang yang berbeda, cacing dan kelinci raksasa.

Membaca karya-karya beliau membuat saya terus terdorong untuk mengembangkan imajinasi.

Watiek Ideo

Pertama kali mengenal karya beliau, saya jadi tahu kalau cerita anak juga bertemakan hal-hal sensitif seperti pelecehan seksual. Membaca lebih banyak bukunya, saya menemukan hal penting dalam menulis, yaitu riset.

Setelah mengenal beliau dan karya-karyanya lebih dekat lagi, saya benar-benar yakin, riset adalah hal yang tak bisa dipisahkan dalam menulis cerita anak. Meski dalam cerita anak jumlah kata terbatas, hal itu tak membatasi penulis untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya.

 

Kalau Kamu Berkesempatan untuk Memiliki Penerbitan Buku Anak Sendiri, Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Membuka pintu lebar untuk penulis pemula

Alasannya mungkin sedikit egois hahaha, ya karena saya juga penulis pemula. Selain itu, saya paham bagaimana kecemasan penulis pemula. Kesempatan pertama selalu menjadi langkah besar yang butuh keberanian untuk mengambilnya. Saya ingin sedikit memberi tambahan keberanian untuk mereka.

Menyediakan lini khusus untuk penulis anak

Saat saya kecil, saya sudah suka menulis. Namun, belum banyak wadah untuk menyalurkannya. Saat ini sudah ada banyak wadah untuk anak yang berbakat menulis. Saya ingin menambah wadah kreativitas anak-anak. Saya ingin mewujudkan impian masa kecil saya yang tertunda. Paling tidak, saya membantu anak-anak memiliki buku yang mereka tulis sendiri.

Membuat buku dengan aneka fitur

Buku anak dengan fitur tambahan selalu menarik bagi anak dan orang tua. Saat ini sudah mulai ada penerbit yang membuat buku seperti ini. Saya ingin menambah pilihan orang tua untuk menyediakan bacaan bagi anak-anak mereka.

 

Pesan untuk Para Penulis Pemula agar Menjadi Penulis Buku Anak yang Memiliki Kualitas dan Kekhasan?

 Baca Buku

Bagi penulis, membaca buku itu syarat mutlak. Apa harus buku anak? Buku anak wajib. Buku lainnya harus. Dengan membaca, penulis bisa menggali ide dan memperkaya wawasan. Penulis bisa menemukan keunikan dari tema serupa. Penulis bisa mempelajari gaya menulis penulis lain. Dengan begitu, dia bisa menemukan gaya yang tak sama.

Peka terhadap Dunia Anak

Kepekaan ini bisa diasah dengan banyak mengobrol dengan anak, membaca artikel atau buku tentang anak, menonton video atau film tentang anak, atau berinteraksi dengan orang tua.

Apa sih manfaatnya?

Kepekaan terhadap dunia anak akan membantu kita menulis cerita yang sesuai untuk anak. Kita juga bisa mendapatkan hal-hal yang mungkin menarik bagi orang tua dan anak.

Kembangan Kemampuan

Penulis harus siap terus belajar. Bagaimana caranya? Ikut pelatihan menulis, forum diskusi dengan penulis lain, baca buku tentang menulis, atau baca buku penulis lain.

Dunia pengetahuan selalu berkembang, termasuk dunia tentang anak di dalamnya. Dengan terus memelihara semangat belajar, kita bisa menjaga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan tersebut.

Ketiga poin di atas mempunyai satu benang merah, membaca. Artinya, jika ingin menulis ya harus membaca!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *