Wawancara Penulis Buku Anak: Fery Yanni

Fery Yanni

Narasumber kita kali ini adalah Fery Yanni, salah seorang penulis produktif yang sudah menulis beberapa buku anak. Nah, kita akan mengulik apa saja yang menjadi perhatiannya dalam dunia literasi buku anak dan apa saja idealisme sebagai seorang penulis buku anak.

Selamat menyimak.

 

Gimana Rasanya Menjadi Penulis Buku Anak?

Jika ditanya bagaimana rasanya menjadi seorang penulis buku anak, maka jawabannya adalah rasa gado-gado. Mengapa gado-gado? Karena menjadi seorang penulis buku anak memiliki berjuta rasa, suka, duka, sedih, gemas, marah, semua jadi satu. Kok, bisa? Bisa, dong!

Menjadi seorang penulis buku anak, mau tidak mau kita harus menerjunkan diri kita dalam dunia anak-anak. Seperti apa dunia anak-anak? secara umum, dunia anak-anak adalah dunia yang lebih banyak suka dan ceria.

Anak-anak itu bebas berekspresi, tidak memiliki beban apa pun. Dunia anak adalah dunia di mana kita lebih banyak mengenal bahagia daripada kesedihan, walau tidak menutup kemungkinan kalau dunia anak juga tak luput dari masalah dan kesedihan, tapi itu hanya sebagian kecil saja.

Dengan menulis buku anak, maka kita ikut menikmati kesenangan sebagai seorang anak, menikmati kebebasan dan kelucuan itu. Hal ini bisa membuat pikiran kita lebih relaks dan lebih tenang.

Saat menulis cerita anak, ini akan membantu kita melepaskan beban yang kadang terasa menghimpit. Dengan menuliskan buku anak, buku yang ringan, indah, penuh fantasi, menempatkan diri  sebagai seorang anak yang tidak memiliki beban, bisa membantu kita mengurangi beban pikiran yang kadang membuat hidup kita terasa malas.

Sebagai penulis buku anak, kita bisa mempunyai kesempatan membuat anak-anak senang dan mengajarkan kebaikan kepada anak-anak yang membaca buku kita, setidaknya mampu menyumbang sedikit andil untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membantu membangun karakter baik anak-anak.

Selain suka dan senang, menjadi penulis buku juga ada tidak enaknya. Tahukah kalian, bahwa menjadi penulis buku anak itu kita harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis.

Kita mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pengaruh positif pada anak, dan ini menjadi semacam “beban” bagi penulis buku anak. Jangan sampai kita memberikan pengaruh negatif. Pengaruh kita pada anak menjadi sangat besar.

 

Seberapa Penting Kualitas Penulis Buku Anak?

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang yang mengobrol dengan saya. Dia membuat sebuah perumpamaan: “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya saja. Kadang buku yang sampulnya biasa sajas, hitam putih, justru isinya bermutu. Sedangkan buku yang sampulnya bagus penuh gambar dan warna menarik, ternyata isinya hanyalah cerita untuk anak. padahal buku cerita anak itu tidak kan, tidak bermutu, hanya sampulnya saja yang bagus.”

Pernyataannya sederhana, tapi ini pasti sangat menyinggung para penulis buku anak. Banyak orang yang begitu meremehkan para penulis buku anak.

Mengapa? Karena mereka tidak mengetahui bahwa tidak semua orang bisa begitu saja menjadi penulis buku anak. untuk menghasilkan buku anak yang bekualitas, tentunya kita sebagai penulis juga harus memiliki kualitas yang baik juga.

Mengapa? Karena kita, penulis buku anak, harus memberikan teladana dan panutan bagi anak-anak. kualitas buku anak tidak harus selalu muluk-muluk. Dalam hal yang sederhana saja, kualitas kita apat diukur.

Misalnya, kita mengajarkan karakter baik pada anak-anak, tapi dalam keseharian kita, kita malah berbuat yang berlawanan dengan apa yang kita tuliskan, maka dapat dipastikan kualitas buku yang kita hasilkan pun tidak bisa maksimal.

 

Siapa Sih yang Pantas Menjadi Penulis Buku Anak?

Berbicara tentang siapa yang pantas menjadi penulis buku anak, sebenarnya siapa pun bisa menjadi penulis buku anak selama dia bisa mendalami kehidupan, jiwa dan pikiran anak-anak.

Karena menjadi penulis buku anak harus bisa masuk ke dalam dunia anak, menyampaikan pesan seperti cara berfikir anak-anak, tidak terkesan menggurui. Dan yang pasti, menjadi penulis buku anak itu harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia tulis, karena apa yang dia tulis itu nantinya akan mempengaruhi anak-anak. Jadi, jangan sampai penulis buku anak memberikan pengaruh yang buruk dari apa yang ditulisnya.

 

Apa Penerbit Buku Anak Favoritmu?

Sebagai seorang penulis buku anak, tentu saya mempunyai penerbit yang menjadi favorit saya. Salah satu penerbit yang jadi favorit saya adalah Tiga Ananda imprint Tiga Serangkai.

Mengapa?

Beberapa buku saya sudah terbit di sana. Saya juga nyaman bekerja sama dengan tim di Tiga Ananda yang telah membantu proses buku saya hingga terbit. Kerja sama editor, penulis dan ilustrator adalah kunci kenyamanan saat menerbitkan buku.

Selain itu, sejauh yang saya alami, Tiga Serangkai selalu berusaha membuat penulisnya berkembang, salah satunya mengikutkan beberapa penulis dan editornya untuk ikut sertifikasi penulis.

Namun demikian, bukan berarti saya tidak nyaman dengan penerbit lain. Semua sama, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Dan semoga Penerbit Charissa pun akan bisa menjadi salah satu penerbit favorit saya nantinya, karena sejauh yang saya alami, sistem kerja Penerbit Charissa sangat cepat dan bagus serta kreatif. Seperti yang terjadi pada buku saya yang akan terbit di Penerbit Charissa, prosesnya cepat dan bagus.

 

Baca Juga: Penerbit Buku Anak Paling Berkualitas di Indonesia

 

Apa Saja Buku Anak yang Sudah Kamu Tulis?

Sejauh ini, buku-buku saya yang sudah terbit adalah:

  • Learning English through Fairy Tales Reading- The Gretaest Palace and Other Stories (Kesaint Blanc, 2009)
  • Cerita dari Desa Kurcaci (Tiga Ananda, 2015)
  • Dongeng Hewan Laut (Diva Kids, 2016)
  • Pizzaria-Lorena dan Separuh Jiwa yang Hilang (Bhuana Sastra, 2017)
  • Kamar Mandi di Blok 26 (Bhuana Sastra, 2017)
  • Kumcer Aku Anak Berbakat (Tiga Ananda, 2018)
  • Awas Raksasa Jorok (Bhuana Ilmu Populer, 2018)
  • Kumcer Wow… Tubuhku Bereaksi! (Tiga Ananda, 2019)

Dan saat ini masih ada 8 buku yang akan menyusul dan sedang dalam proses di beberapa penerbit.

 

Berapa Lama Biasanya Menulis Satu Buku Anak?

Dalam menulis buku anak, prosesnya cukup panjang, tak bisa asal menulis saja. Biasanya ide yang muncul dalam menulis buku anak muncul dari kejadian-kejadian sederhana yang terjadi di sekitar saya.

Baik dari keponakan, murid-murid dulu saat saya masih mengajar di sekolah, dari murid-murid les, dari anak-anak tetangga, juga dari tingkah laku hewan-hewan yang unik dan lucu di sekitar saya.

Tak hanya dari anak-anak, tapi benda-benda sekitar pun bisa menjadi sumber ide. Dalam menulis cerita, kita tidak hanya memperhatikan pada alur cerita, tapi juga tokoh, baik nama mauoun karakter.

Nah, untuk nama pun butuh proses kreatif. Semisal, untuk cerpen realis, saya biasa ambil nama murid-murid baik di sekolah dulu maupun di tempat les. Sedangkan nama tokoh dalam dongeng, saya biasa gunakan apa pun di sekitar sebagai ide nama. Misal untuk nama-nama kurcaci, saya menggunakan nama teman-teman dari Timor Leste yang unik-unik, seperti: Leao, Ornai, Elder, Ameu.

Atau saya biasa gunakan benda di sekitar, misalnya munculnya nama Refina sebagai tokoh dongeng berawal dari nama merk garam dapur, atau Pino dan Kiko,yang berasal dari nama merk es buah kemasan seharga seribun itu. Dan masih banyak asal ide yang lain.

 

Kesulitan Apa yang Dialami Ketika Menulis Buku Anak?

Menulis buku anak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maka, ketika ada yang bertanya,”Mbak, untuk menulis satu buku anak, apakah bisa selesai sehari?”

Bahkan pertanyaan ini saya tidak sanggup menjawab, mengapa? Karena bagi saya tidak mungkin menghasilkan satu buku. Sejauh ini, saat saya mengerjakan buku kumpulan cerita berisi 15-20 cerita, saya  mengerjakan maksimal 1 bulan.

Dalam satu hari, jika kondisi dan suasana sedang baik, maka saya bisa membuat 1 atau 2 cerita dalam 1 hari. Namun, jika kondisi sedang tidak memungkinkan, jangankan membuat 1 cerita, dalam dua hari kadang satu cerita pun tidak selesai.

Jadi, dalam menulis saya membutuhkan kondisi yang benar-benar mendukung karena saya ingin bisa menghasilkan karya yang maksimal.

Dalam menulis cerita, apa pun itu, selain enjoynya proses menulis, saya juga mengalami kesulitan-kesulitan saat menulis. Yang paling utama kendala dalam menulis adalah masalah waktu, karena saya juga banyak hal yang harus dikerjakan.

Tapi yang pasti, kesulitan dalam menulis cerita anak adalah karena kita harus menempatkan diri kita sebagai anak-anak juga, supaya kita bisa mendalami karakter yang kita jadikan tulisan, kita harus bisa berfikir seolah kita ini adalah anak-anak kecil, yang kadang nakal, baik, pelit, manja, dan kita harus bisa memikirkan bagaimana alur dan pemecahan masalah itu harus diolah dengan cara berfikirnya anak-anak, yang sederhana namun rumit.

Sebagai orang dewasa, tentu tidak mudah saat harus berfikir dan mengeluarkan bahasa sebagai anak-anak.

 

Apa Peran Penting Editor bagi Seorang Penulis Buku Anak?

Sebagai penulis yang memiliki buku yang diterbitkan oleh penerbit, tentu dia tak akan lepas dari kerja sama dengan editor. Malahan, editor mempunyai peran yang sangat penting.

Buku kita bisa terbit dengan isi dan penampilan yang bagus itu, tidak lepas dari peran yang sangat besar dari editor.

Tanpa adanya editor, buku kita tidak mungkin bisa sebagus itu tanpa adanya campur tangan dari editor. Editor adalah bidan untuk kelahiran buku-buku kita.

Fery Yanni

 

Apa Harapan Kamu untuk Dunia Penerbitan Buku Anak di Indonesia?

Pada saat sekarang ini, saat semua bidang usaha tengah terpuruk karena dampak covid-19, termasuk usaha di bidang penerbitan. Akibatnya apa? Jelas sekali, dengan terpuruknya dunia penerbitan dan perbukuan, maka sebagai penulis, dampaknya sangat terasa.

Ketika penulis mempunyai harapan buku-bukunya akan terbit tahun ini, maka karena adanya covid-19, buku-buku itu harus ditunda, malah tak sedikit yang batal terbit. Oleh sebab itu, harapan saya satu-satunya saat ini adalah kondisi bisa kembali seperti dulu, membaik, sehingga semua bisa kembali berjalan normal, termasuk nafas penerbitannya. Dan akhirnya buku-buku bisa diproses dan didistribusikan hingga sampai ke tangan para pembaca cilik.

 

Apa Saja Judul Buku Anak Favoritmu? Mengapa Kamu Menyukainya?

Mengapa saya suka dan cinta dengan menulis buku dan cerita anak? sejak kecil saya mempunyai hobi membaca. Waktu itu saya tidak mampu untuk membeli buku bacaan sendiri. Apalagi saya kalau membaca tak cuma sedikit. Biasanya saya selalu menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan sekolah saat jam istirahat, sebelum masuk jam pelajaran, maupun jam kosong, sampai-sampai petugas perpustakaan hafal dengan saya.

Itu terjadi sejak masih SD sampai kuliah, bahkan saat saya sudah bekerja menjadi guru. Semua sudah hafal, kalau mencari saya mudah, yaitu ke perpustakaan.

Selain itu, saya juga suka meminjam buku ke taman bacaan dan perpustakaan di panti asuhan. Semua buku bacaan di sana sudah saya lahap habis. Dan petugasnya seperti di sekolah juga, hafal dengan saya.

Buku yang paling saya suka baca waktu itu yang memancing saya untuk mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis adalah buku-buku karya Enid Blyton. Baik kumpulan cerita atau novel, novel petualangan (Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, kisah petualangan), atau novel tentang kehidupan sekolah asrama (Malory Towers dan St. Clare).

Hampir semua buku karya Enid Blyton sudah saya baca, dan sedikit banyak membawa pengaruh pada cara berfikir dan bercerita saya. Dari buku-buku Enid Blyton inilah saya jadi punya keinginan kuat untuk menjadi penulis, cita-cita saya sejak masih SD.

 

Siapa Penulis Buku Anak Favoritmu? Mengapa?

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya sangat menyukai buku-buku karya Enid Blyton yang selanjutnya membuat saya terus bermimpi dan berusaha menjadi penulis buku anak juga.

Cerita-ceritanya yang bervariasi membuat kita tidak akan pernah bosan dengan cerita yang dibuatnya. Sedangkan untuk penulis Indonesia yang saya idolakan dan saya ingin bisa seperti dia adalah Dian Kristiani.

Selain cerita-ceritanya yang ringan dan gaya berceritanya yang enak, Dian Kristiani juga merupakan seorang penulis yang rendah hati. Saya banyak mendapat masukan dan ilmu dari dia. Dan dia seorang yang benar-benar peduli dengan teman-temannya.

 

Kalau Kamu Berkesempatan untuk Memiliki Penerbitan Buku Anak Sendiri, Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Jika suatu saat saya mempunyai kesempatan untuk emiliki penerbitan sendiri, entah itu mayor maupun indie, saya ingin bisa menerbitkan buku-buku yang benar-benar berkualitas. Seleksi harus benar-benar ketat. Bukan hanya asal dia bayar maka langsung terbit, tapi memang melalui tahap selesi dan revisi yang tidak setengah-setengah. Saya ingin bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.

 

Pesan untuk Para Penulis Pemula agar Menjadi Penulis Buku Anak yang Memiliki Kualitas dan Kekhasan?

Akhir kata, saya berpesan pada para penulis pemula untuk buku anak, teruslah menulis, selami, satukan hati dengan dunia anak-anak, sehingga kalian tahu apa yang dibutuhkan anak-anak, diinginkan anak-anak, apa yang harus kalian berikan untuk anak-anak. berkaryalah semaksimal mungkin, jangan setengah-setengah.

Warnai kehidupan anak-anak Indonesia taanpa melupakan kualitas bacaan mereka. Berikanlah teladan baik bagi anak Indonesia untuk menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan