Permainan Tradisional Anak: Langka & Seru!

permainan tradisional anak

Permainan Tradisional Anak – Saat ini anak-anak jaman sekarang cenderung lebih menyukai bermain menggunakan gadget, dibandingkan dengan bermain dengan teman-temannya.

Berbeda dengan anak-anak jaman dahulu saat belum mengenal gadget. Dahulu ada banyak jenis permainan anak yang bisa dimainkan bersama-sama dengan teman.

Bermain permainan tradisional memiliki banyak sekali manfaat. Beberapa manfaat tersebut di antaranya adalah menyehatkan, mempererat sosialisasi dengan teman-temannya, melatih kerjasama, mengasah otak dan sebagainya tergantung dari permainan apa yang dilakukan.

Jika Anda berencana mengajarkan kepada buah hati permainan tradisional, berikut ini sejumlah permainan tradisional anak-anak.

 

Baca Juga: Penerbit Buku Anak di Jogja Terbaik dan Berkualitas!

 

1. Bekelan

Bekelan adalah salah satu permainan tradisional yang banyak dimainkan anak pada tahun 90-an.

Taukah dari mana asal dari bekelan?

Bekelan merupakan permainan yang berasal dari Jawa Tengah. Permainan ini menyebar ke berbagai tempat hingga ke Jogja. Di wilayah Jogja, bekelan disebut dengan gatheng.

Cara bermain bekelan yakni menggunakan bekel dan biji bekel (kecik).

Pertama genggam bola beserta biji kecik menjadi satu. Setelah itu lemparkan bola ke atas dan lepaskan biji bekel tersebut kemudian tangkap kembali bolanya.

Setelah itu lemparkan kembali bola ke atas dan biarkan memantul sekali ambil biji bekel satu lalu tangkap kembali bolanya.

Begitu seterusnya. Setelah habis, maka tingkatan biji yang di ambil menjadi dua, tiga dan seterusnya sampai sesuai dengan jumlah biji.

Selanjutnya adalah membalik biji ke atas, samping dan bawah.

Permainan berakhir ketika pemain menyentuh kecik atau biji bekel saat mengambil biji yang lain, atau membuat biji bekel yang tidak diambil ikut bergerak. Atau membuat bola bekel jatuh menimpa kecik.

Manfaat dari permainan ini adalah melatih konsentrasi si kecil, meningkatkan koordinasi motoriknya, serta melatih kesabarannya.

 

Baca Juga: Penulis Buku Anak Indonesia & Dunia yang Inspiratif

 

2. Jamuran

Jamuran merupakan salah satu permainan tradisional anak zaman dahulu. Permainan ini bisa dimainkan oleh anak laki-laki atau perempuan.

Untuk memainkan jamuran dibutuhkan empat orang untuk melakukan permainan namun semakin banyak akan semakin seru.

Caranya adalah hompipah terlebih dahulu, kemudian yang kalah harus berada di tengah.

Setelah itu anak-anak yang lain bergandengan tangan dan berputar sembari menyanyikan lagu:

“Jamuran, yo ge gethok, Jamur opo, yo ge gethok. Jamur payung, ngrembuyung koyo lembayung. Siro badhe jamur opo?”

Apabila seseorang di tengah menyebutkan jamur monyet maka nantinya anak-anak yang lain harus bergaya seperti monyet dan menirukan suaranya.

Nantinya jika ada yang tertawa maka harus menggantikan posisi yang berada di tengah.

Permainan ini mengajarkan anak-anak untuk mengembangkan imajinasinya karena mereka bisa menyebutkan kata apapun yang disertai gerakan.

Permainan jamuran adalah salah satu permainan yang dibuat oleh Sunan Giri yang merupakan salah satu Wali Songo.

 

Baca Juga: Manfaat Mengenalkan Anak dengan Buku

 

3. Cublak-Cublak Suweng

Sebagaimana jamuran, pencipta dari permainan Cublak-cublak Suweng adalah Sunan Giri.

Tak heran karena Sunan Giri merupakan ulama sekaligus budayawan. Dulunya permainan ini adalah bagian dari sarana untuk membuat agar banyak orang tertarik dengan budaya Islam.

Untuk bermain Cubla-cublak Suweng caranya adalah menggunakan satu benda kecil yang disembunyikan dalam genggaman.

Benda tersebut bisa berupa kerikil, kancing baju, ataupun uang koin. Benda-benda tersebut melambangkan suweng atau anting-anting yang merupakan benda beharga.

Minimal peserta yang ikut permainan ini adalah tiga orang.

Namun semakin banyak yang bermain permainan Cublak-cublak Suweng akan semakin seru.

Pertama dilakukan hompipah. Yang kalah akan menjadi Pak Empo dan berada di tengah dengan posisi menelungkup.

Nantinya para pemain mengelilingi Pak Empo dengan tangan berada di atas punggungnya sambil salah seorang pemain memutarkan benda kecil dari satu tangan ke tangan lain sesuai iringan lagu.

Adapun lagu yang dinyanyikan:

“Cublak cublek suweng, suwenge ting gelenter. Mambu ketundung gudel. Pak Empo lirak-lirik, sapa ngguyu ndhelikake. Sir-sir pong dele gosong, sir-sir pong dele gosong.”

Pada akhir lagu Pak Empo harus menebak siapa yang kebagian menyembunyikan batu.

Nantinya jika tebakan betul maka Pak Empo akan digantikan orang yang menyembunyikan batu tersebut.

Salah satu manfaat permainan ini adalah mengajarkan sportifitas, serta bisa mengembangkan imajinasi anak, dan sikap kooperatifnya.

 

Baca Juga: Cara Menulis Buku Anak

 

anak indonesia

 

4. Rangku Alu

Permainan Rangku Alu merupakan permainan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Permainan tersebut diadakan sebagai perayaan hasil perkebunan dan pertanian.

Permainan ini membutuhkan empat buah bambu dengan diameter kecil dengan panjang dua meter.

Nantinya setelah menyiapkan alat  kelompok akan dibagi menjadi dua  yakni kelompok pemain dan kelompok jaga. Pemain harus berjumlah empat orang. Adapun kelompok jaga akan menggerakkan bambu sembari menyanyikan lagu.

Gerakan bambu nantinya harus seirama dengan lagu yang dinyanyikan.

Lagu yang dinyanyikan bisa merupakan lagu tradisional yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Sejumlah lagu tradisional tersebut yakni seperti Si Patokaan, Ampar Ampar Pisang atau Rasa Sayange.

Kelompok pemain nantinya mereka harus masuk ke dalam bidang persegi dan melompat sesuai irama. Nantinya jika tidak masuk risikonya adalah terjepit oleh batang bambu yang dimainkan dan harus ganti jaga.

Sejumlah manfaat permainan ini adalah melatih aspek ketrampilan dan kecerdasan.

Juga melatih daya konsentrasi, ketangkasan dan kelincahan gerak.

***

Demikian pembahasan mengenai permainan tradisional anak yang langka dan inspiratif yang bisa Anda jadikan rujukan agar anak-anak kecil di sekitaran Anda bisa bermain dengan baik.

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan