Wawancara Penulis Buku Anak: Yoana Dianika

yoana dianika

Narasumber kita kali ini adalah Yoana Dianika, salah seorang penulis produktif yang sudah menulis beberapa buku anak. Nah, kita akan mengulik apa saja yang menjadi perhatiannya dalam dunia literasi buku anak dan apa saja idealisme sebagai seorang penulis buku anak.

Selamat menyimak.

Gimana Rasanya Menjadi Penulis Buku Anak?

Rasanya menjadi penalis buku anak itu … menyenangkan. Merasa terperangkap dalam dunia anak yang menyenangkan dan penuh imajinasi, bebas, serta tak terbatas pada ini itu.

Hal yang sudah nggak bisa kita dapatkan ketika seseorang bertumbuh.

 

Seberapa Penting Kualitas Penulis Buku Anak?

Kualitas penulis buku anak menurut saya sangat penting. Tidak semua penulis bisa menghasilkan gaya bahasa yang bisa ditangkap dengan mudah oleh anak. Juga tidak semua penulis bisa mengeksplorasi dunia anak-anak yang tampak remeh-temeh, padahal sangat kompleks dan penuh imajinasi.

Sejak awal, penulis buku anak dituntut untuk ‘memiliki jiwa’. Tanpa hal ini, maka tulisannya tidak bisa hidup dalam dunia imajinasi anak-anak yang masih polos dan sangat beragam.

 

Siapa Sih yang Pantas Menjadi Penulis Buku Anak?

Yang pantas menjadi penulis buku anak tidak harus seseorang yang bergelar, atau bangsawan, atau orang tenar … melainkan, mereka yang imajinasinya tak terbatas. Namun, memiliki imajinasi yang tak terbatas belumlah cukup jika sang penulis tak bisa mengolahnya dalam kata-kata yang bisa dipahami dengan mudah oleh dunia anak-anak yang masih polos.

Seorang penulis buku anak harus bisa menghidupkan dunia yang berwarna-warni ini ke dalam kata-kata.

 

Apa Penerbit Buku Anak Favoritmu?

Sejak kecil suka dongeng-dongeng klasik yang diterjemahkan oleh Elex Media dan Gramedia. Keduanya membuat masa kecil saya berwarna-warni dan dipenuhi dengan cerita-cerita menakjubkan dari berbagai belahan dunia, yang diperkuat dengan gambar-gambar menarik penuh warna.

Misalnya, mengenal Rabbit dan rumah kayunya yang unik, atau Caroline dan sepatu merahnya yang indah tapi sebenarnya mengerikan, atau dongeng-dongeng Disney sekelas Cinderalla yang bercerita tentang perjuangan, dan masih banyak lagi.

Dari kedua penerbit itu juga mulai paham, bahwa dunia buku anak itu—khususnya di luar negeri—sebenarnya sangatlah luas. Bukan hanya dari segi dongeng, buku-buku religi pun luar biasa kompleks untuk ukuran anak-anak, terlebih sains-sains-nya. Karena menurut saya, buku anak yang bagus adalah tetap relevan walaupun pembacanya bukan lagi anak-anak.

Sampai sekarang pun, buku-buku bacaan saat dulu masih tersimpan dan masih sering dibaca-baca.

Selanjutnya, akhirnya bertemu Charissa. Senang sekali bisa bekerja sama, dan bahkan menjadi rumah bagi buku anak tulisan saya. Untuk ke depannya, berharap bisa berkembang bersama Charissa, dengan menerbitkan buku-buku anak yang juga beragam dan kaya kisah seperti buku-buku dari luar negeri.

 

Baca Juga: Penerbit Buku Anak Paling Berkualitas di Indonesia

 

Ceritakan Bagaimana Proses Kreatifmu dalam Menulis Buku Anak ….

Awal terjun untuk menulis buku anak, karena ingin sekali membukukan dongeng-dongeng yang sering dibacakan ayah pada waktu kecil. Soalnya saat kecil dulu, yang banyak bertebaran di toko buku adalah buku dongeng terjemahan.

Sementara dongeng nusantara sendiri mungkin hanya terpaut pada kisah-kisah seperti Bawang Merah-Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, dsb. Padahal Indonesia ini luas, dari Sabang sampai Merauke. Tak sedikit cerita yang masih tersusup dalam masyarakat, yang bisa digali dan memiliki potensi bisa menjadi dongeng sebagus Mulan atau Pocahontas.

Saya semakin yakin bahwa Indonesia kaya kisah ketika suatu ketika ayah menceritakan legenda salah satu gunung pendek yang ada di kota lahirnya, Ponorogo. Ketika saya mencoba menggali cerita-cerita lain, dugaan saya benar. Ternyata dari kota Ponorogo saja, selain asal-muasal reog, masih ada ribuan mitos dan dongeng-dongeng yang bisa ditulis.

Sayangnya, cerita-cerita tersebut sampai sejauh ini baru diceritakan secara lisan dari mulut ke mulut. Dari sana akhirnya saya sangat ingin bisa menjadi penulis anak … yang semoga ke depannya bisa fokus pada; karya anak dengan aroma lokalitas. Ringan, mengajarkan cinta negeri dan budaya, tetapi tidak terkesan menggurui.

Hal itulah yang saya pikirkan juga ketika menulis untuk Charissa. Ketika naskah ini mendapatkan respons positif dari Charissa, luar biasa senang. Semoga melalui Charissa, pesan-pesan saya untuk generasi muda—untuk selalu menghargai perbedaan—bisa tersalurkan dengan baik.

Akan tetapi, jika teringat bagaimana awal hingga terjun ke dunia anak … mungkin bisa dikatakan penuh tantangan. Haha.

Kisah pada buku anak pictorial book pertama saya menuliskan ulang dongeng yang disampaikan ayah pada saat saya SD. Saya kirimkan naskah yang masih mentah—karena pada saat itu, saya pikir menulis anak sama halnya menulis novel, tanpa batasan. Ternyata saya salah besar.

Naskah pertama tersebut, memang diterima. Hanya saja … wow, revisinya banyak haha. Bahkan, secara fundamental. Dari sana akhirnya sadar, bahwa menulis cerita anak nggak semudah membalikkan telapak tangan, atau menulis tema bucin, hehe.

Namun, dari sana juga belajar banyak, terutama bagaimana cara menyusun pola kalimat yang mudah dipahami anak-anak. Lalu, gaya bahasa seperti apa yang bisa menyelami dunia anak-anak, termasuk bagaimana membangun karakter dan cerita yang bisa terpatri dalam otak anak-anak yang penuh imajinasi.

Buku anak itu, kalimatnya pendek-pendek, dan justru harus padat supaya mudah diserap mereka. Buku anak juga memiliki struktur khusus, yang bisa dikatakan susah-susah gampang seperti mind mapping.

Namun, syukur Alhamdulillah, saya bisa menaklukkan tantangan tersebut, buku akhirnya selesai dengan lancar. Begitu selesai, luar biasa senang, karena diam-diam berharap, “Semoga ada hal baik yang bisa diambil anak-anak dari hal ini. Juga semoga buku ini terus berkesan bagi mereka walaupun mereka bertumbuh.”

Akhirnya, dari sini mulai ketagihan menulis buku anak, terutama pictorial book. Senang banget ketika Charissa bisa menjadi salah satu rumah untuk mewujudkan salah satu mimpi; menyajikan cerita anak yang berkesan tetapi tidak menggurui, serta bertema Kebhinnekaan. Harapannya, semoga ada penerbit luar negeri yang tertarik. Aamiin.

 

Apa Saja Buku Anak yang Sudah Kamu Tulis?

Sejauh ini yang sudah terbit, ada Game-D.

Sebenarnya Game-D ini bisa dikatakan nanggung. Untuk usia anak-anak, yang bukan anak-anak banget. Temanya sains fiksi petualangan dengan bau fantasi. Ini kali pertama saya menggunakan setting tempat antah berantah, tetapi mendapatkan respons positif dari para pembaca.

Tak hanya anak-anak, bahkan ada orang dewasa yang juga mengirimkan email untuk membahas buku saya ini.

Buku anak selanjutnya, sekaligus adalah pictorial book, trilogi, berjudul Hanoman Cilik. Kisah inilah yang pernah diceritakan ayah ketika saya masih kecil. Tentang asal-usul terjadinya Gunung Lanang, sebuah gunung pendek di Kota Ponorogo. Unsur Jawanya kental, tetapi saya mencoba mengemasnya supaya mudah dipahami dan dicerna anak-anak. Sehingga tak hanya belajar budaya, diharapkan psikologi anak-anak bisa berkembang melalui kisah-kisah sederhana yang saya tulis.

Setelah trilogi Hanoman Cilik, menyusul Hadis Rasulullah Membimbingmu Menjadi Anak Saleh. Buku ini berisi implementasi hadis-hadis sederhana apa saja yang sering terlupa, padahal berpahala. Buku ini berisi contoh-contoh kecil dalam keseharian, dengan permasalahan yang dekat dengan anak-anak.

 

Berapa Lama Biasanya Menulis Satu Buku Anak?

Untuk pictorial book, biasanya perlu waktu maksimal sebulan (dengan catatan, data pendukung sudah ada, jadi tinggal mengolahnya menjadi cerita). Karena biasanya yang paling rumit dari menulis buku anak adalah menyusun tabel adegannya, juga merencanakan ilustrasi seperti apa yang harus digambarkan oleh illustrator.

Bila data kurang matang, maka penulis kurang bisa menceritakan sesuatu yang kuat, sehingga tak jarang juga akan susah ditangkap oleh illustrator. Jika susah ditangkap illustrator, gambar adegannya bisa-bisa tidak jelas, dan ini gawat … karena jadi sulit dipahami anak-anak.

Misalnya, ketika menyusun naskah Ana Komodo ini, sudah ada bahan riset mengenai kondisi di Nusa Tenggara itu seperti apa, foto-foto lokasi untuk tokohnya, termasuk kostumnya seperti apa. Jadi, ketika illustrator menggambarkannya, lalu menunjukkan, kami tinggal berdiskusi untuk membuat gambarnya lebih spesifik, sehingga bisa dicerna anak-anak.

 

Kesulitan Apa yang Dialami Ketika Menulis Buku Anak?

Hmm … kesulitan yang dialami mungkin, yang paling utama adalah … menemukan illustrator yang cocok. Sama seperti penulis anak yang harus bisa menyelami dunia anak-anak, illustrator ini tugasnya lebih berat. Dia harus bisa memvisualisasikan kalimat yang disusun penulis dalam sebuah gambar, sehingga buku tersebut bisa diserap dengan mudah. Tapi Alhamdulillah, untuk buku di Charissa seneng banget ilustratornya kooperatif, selain itu juga bagus hasil akhirnya.

Lalu… juga, misal menulis dengan setting di tempat luar Jawa, itu akan sangat kewalahan menemukan studi pustakanya. Terlebih jika saya berniat bercerita tentang lokalitas, yang kebanyakan—tentu saja—catatan di lokasi yang akan diceritakan dalam bahasa setempat, itu akan sedikit kerepotan.

Itulah sebabnya, dengan terbukanya teknologi, sangat bersyukur karena tak sedikit orang baik yang akan menawarkan diri untuk membantu riset atau menjadi narasumber ketika saya membutuhkannya, dan mengumumkannya di media sosial saya. Dengan ini, semoga kekayaan di Indonesia semakin bisa tergali lewat buku-buku anak.

yoana dianika

Dari Mana Biasanya Mendapatkan Ide Ketika Menulis Buku Anak?

Sejauh ini, cara termudah untuk mendapatkan ide menulis cerita anak tentunya dari sekitar. Pendalaman karakter pada buku bisa didapatkan dengan cara mengamati keseharian anak-anak, misalnya ketika mereka bergerombol bermain, di jalanan, bahkan ketika ikut orangtua berjalan-jalan.

Sementara itu, untuk ide yang akan dieksekusi, seperti yang sudah saya jelaskan, kisah-kisah secara lisan secara turun-temurun yang saya dapatkan dari orangtua seringkali menginspirasi. Kisah-kisah yang mereka sampaikan unik, magic, dan penuh imajinasi.

Akan tetapi, pengamatan dan terjun langsung ke lapangan belum cukup. Jika ingin memiliki susunan gaya bahasa yang luwes ketika menulis buku anak, maka banyak membaca buku-buku anak juga bisa menjadi gudang ide yang baik. Menonton film-film anak dengan efek yang luar biasa bisa menolong seorang penulis dari mengalami writer block.

 

Apa Peran Penting Editor bagi Seorang Penulis Buku Anak?

Editor dalam buku anak sangatlah penting. Di sini mereka akan membimbing supaya naskah yang ditulis oleh penulis lebih worth it dan masuk ke dunia anak. Dan mereka tentunya lebih paham, bagaimana kalimat-kalimat yang mudah dipahami anak-anak, juga seperti apa kalimat yang tidak bertumpuk-tumpuk biar bisa ditangkap anak-anak.

Ibarat mercusuar, para editor buku anak ini akan mengarahkan para penulisnya kea rah yang tepat, mengingat buku anak—seperti yang saya bilang—walaupun tampak remeh-temeh, sebenarnya sangatlah kompleks.

Tak hanya itu, misal dalam buku yang saya tulis untuk Charissa. Kali pertama saya mencoba menulis seorang super heroes, akan tetapi dengan tidak menampilkan kekerasan. Jika seorang editor tidak bisa menjadi ‘teman’ bagi penulis, maka dia akan membiarkan naskah ini begitu saja.

Namun, jika ‘editor’ ingin menjadi sahabat bagi naskah dan penulis, maka dia akan mulai merawat naskah tersebut. Akan menguatkan hal-hal yang bahkan luput disampaikan oleh penulis dalam bukunya. Bahkan, dalam buku tulisan saya, editor juga membimbing saya untuk memilihkan adegan seperti apa yang kira-kira cocok untuk diilustrasikan.

Tokoh yang muncul dalam kepala penulis jika divisualisasikan apakah sudah sesuai dengan ilustrasinya, dan sebagainya. Dengan kata lain, ketika menulis buku, seorang penulis ibarat naskahnya tak ubahnya seperti sayuran yang belum dibumbui jika tidak ada editor.

Editor membuat naskah semakin kuat, tetapi dengan tidak menghilangkan hal-hal khas dan pokok yang ingin disampaikan penulis. Editor lah yang akan membantu penulis memunculkan hal-hal luput, sebelum naskah tersebut sampai ke tangan pembaca.

 

Apa Harapan Kamu untuk Dunia Penerbitan Buku Anak di Indonesia?

Hmm… hm… harapannya, pengin banget buku anak yang menjamur dan dicari di Indonesia itu ‘naik tingkat’ ehehe. Naik tingkat di sini berupa…. Dulu, awal saya terjun untuk menjadi penulis anak, saya sempat berpikir, apakah buku anak di kita cukup sekadar; mengenal angka dan huruf, lalu dongeng dengan penulisan pesan moral secara jelas pada bukunya.

Sementara jika membandingkan dengan luar negeri, mereka sudah dikenalkan dengan buku-buku tebal yang bisa membangun pola pikir mereka untuk bersikap kritis. Nah, saya berharap, Indonesia kelak juga akan seperti itu.

Buku anak tak sekadar berisi cerita yang menggurui, tetapi sudah menginjak pada level, di mana setelah membaca buku tersebut, pola pikir anak semakin terasah, terutama imajinasinya. Terlebih, akan mengesankan jika anak jadi ingin ikut menulis setelah membaca buku tersebut.

Karena biasanya, itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku yang bagus; saya jadi ingin menulis, yang semoga bisa menghasilkan buku yang bagus juga.

Buku yang bagus adalah, buku yang tak sekadar terlupa ketika kita sudah selesai membacanya, tetapi juga meninggalkan kesan yang dalam, bahkan membangkitkan keinginan kita untuk ikut menulis juga.

 

Apa Saja Judul Buku Anak Favoritmu? Mengapa Kamu Menyukainya?

Sejauh ini menyukai dongeng-dongeng Andersen, karena isinya begitu dalam. Dia menyampaikan bahwa; dunia yang kita anggap sempurna dan baik-baik saja … kenyatannya tidak begitu.

Juga BFG-nya Roald Dahl yang sangat mind blowing, bahwa di dalam hidup apa yang kita pikir ‘hitam’ nggak selalu ‘hitam’, dan yang kita pikir ‘putih’, sebenarnya nggak sepenuhnya seperti itu.

Hal yang paling saya sukai dalam BFG ini juga… unsur persahabatannya. Buku ini, diam-diam mengajarkan kepada kita untuk menghargai perbedaan, bahwa berteman itu bisa dengan siapa saja… asalkan kita bisa saling menjaga hal-hal baik dengan teman bergaul kita.

Selain itu, dunia yang dibangun dalam BFG pun sangat-sangat magical, terasa begitu hangat. Walaupun filmnya belum rilis, pembaca sudah bisa membayangkan dengan gamblang bahwa dunia tokoh di dalam buku tersebut adalah begini begitu.

Sang penulis bisa membangun dengan kuat dunianya. Dunia yang bisa terbangun kuat dalam tulisan, selalu berhasil menghipnotis pembacanya… seolah mereka terlempar ke alam lain di dalam buku itu.

 

Siapa Penulis Buku Anak favoritmu? Mengapa?

Apakah RL Stine termasuk penulis buku anak? Karena beliau menyebut dalam bionya: hobi meneror anak-anak. 😆 . Masa kecil saya dulu dihiasi dengan terornya serial Goosebumps, yang ending-nya selalu bikin gemes dan jleb saking nggak tertebak.

Apa yang kita pikir A, oleh sang penulis bisa jadi kesimpulannya adalah Z. Hehehe. Plot twist yang dibangun begitu cerdas, dan kalem, sehingga nggak terkesan terburu-buru dan dipaksakan.

Plot twist yang bagus adalah ketika pembaca menutup buku, dia akan berteriak, “Hah? Serius? Cerdas amat, aku sampai nggak kepikiran!”

… sambil mengulang baca dengan penuh penasaran dan tidak percaya. Begitulah yang terjadi pada buku-bukunya RL Stine.

Juga menyukai Andersen, di mana beliau bisa menangkap dongeng yang notabene untuk anak-anak dari sisi dan sudut pandang yang lain.

Selanjutnya, ada Roald Dahl, tentu saja.

Ketika pertama kali kenal Willy Wonka dan pabrik cokelatnya, sampai berpikir, “Aduh, aku pengin hidup di dunia yang kayak gitu,” hahaha.

Hayo ngaku, pasti nggak sedikit yang duluuu ingin sekali punya pabrik yang isinya permen saja, es krim saja, jajan saja, juga cokelat saja.

Dahl berhasil mengeksplorasi sebuah ide sederhana tentang keinginan yang biasa dimiliki anak-anak, menjadi sebuah cerita yang brilian dan kompleks. Namun tetap, dari cerita tersebut, ada pesan-pesan yang disisipkan, tak hanya untuk anak-anak, melainkan untuk orangtua juga. Karena pembelajaran yang baik adalah ketika anak dan orangtua sama-sama belajar untuk bisa saling memahami.

Penulis selanjutnya yang disukai … akhir-akhir ini tergila-gila pada tulisan Cornelia Funke yang rasanya seperti masuk ke dongeng, tetapi disajikan dalam balutan dunia yang modern.

‘Dunia’ yang dia bangun sangat kompleks dan terkesan majestic. Bahkan, saya yang sudah tidak anak-anak lagi sangat terseret dalam dunianya. Tokoh-tokoh yang dia hadirkan di sini memiliki karakter kuat, tidak berlebihan, dan memiliki ciri khas yang mudah sekali melekat pada benak para pembaca.

Secara plot, sangat mulus dan rapi, dan takarannya pas—tidak terkesan terburu-buru, atau terlalu lambat. Poin plusnya, tak hanya pandai meramu cerita, ternyata penulis juga seorang illustrator.

Buku-buku yang dia tulis biasanya dia sisipi illustrator yang digambarnya sendiri. Gambarnya pun klasik dan hangat, sederhana, tetapi tidak ala kadarnya.

Ketika membaca buku Cornelia Funke, saya sampai berpikir, “Buku kayak gini… yang bakalan melekat dalam benak anak-anak,” dan berharap bisa menjadi penulis sekelas ini suatu saat nanti. Aamiin.

 

Kalau Kamu Berkesempatan untuk Memiliki Penerbitan Buku Anak Sendiri, Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Jika punya kesempatan untuk memiliki penerbitan buku anak sendiri … ingin sekali bisa menjalin kerja sama bilateral dengan beberapa penulis atau penerbit di dunia untuk bekerja sama menulis buku anak bersama, dengan saling berbagi, dan saling mengeksplorasi unsur lokalitas yang ada.

Untuk merangkul kisah-kisah yang tersembunyi dari tiap negara… dan jika memungkinkan, dari kegiatan ini bisa setidaknya memberi sedikit bantuan untuk anak-anak yang kurang beruntung.

Baik berupa buku itu sendiri, maupun berupa royalti yang didapat, seperti apa yang dilakukan Roald Dahl, yang menyisihkan royaltinya untuk dunia anak. Siapa tahu dari ide kecil ini, ke depannya bisa ada festival juga, untuk menghasilkan buku-buku secara kerja sama dengan beberapa teman penulis buku anak dari negara lain. Sehingga nantinya diharapkan, hubungan antar penulis ini bisa menguat—tak hanya untuk penulis buku anak di dalam negeri, melainkan juga hubungan antarpenulis buku anak di luar negeri.

Mari berpesta, bahwa buku anak memang benar-benar menarik ….

 

Pesan untuk Para Penulis Pemula agar Menjadi Penulis Buku Anak yang Memiliki Kualitas dan Kekhasan?

Yang paling utama, jangan bosan belajar… dan riset. Risetnya seperti apa? Yang terpenting dengan pengamatan dan mengenang, hehe.

  • Pengamatan: dunia anak-anak yang akan kita selami dengan tulisan ini sebenarnya realitanya bagaimana. Lalu, anak-anak itu gesturnya seperti apa saja. Mereka kebiasannya apa saja, pola pikirnya bagaimana (yang jelas sangat berbeda jauh dengan orang dewasa).
  • Mengenang: kita dulu ketika kecil kenapa saja, apa yang membuat kita senang, sedih, bahkan antusias. Hal apa yang sangat kita inginkan, tetapi di sisi lain sangat tidak masuk akal.

Sampai sekarang saya masih ingat, impian terbesar saya waktu kecil adalah jadi Power Rangers. Makanya akhirnya terlahir tokoh superheroes di Charissa, hehe. Dan yang terakhir, jangan pantang menyerah.

Seorang penulis buku anak yang baik… bukunya nggak lantas jadi flawless hanya dalam sekali tulis. Dia berproses, berulang-ulang… sampai akhirnya bisa menemukan ‘jiwa’ dalam ceritanya.

Artikel Rekomendasi

Tinggalkan Balasan